JENESYS: Pengentasan Kemiskinan (Minati Sinha)

November 26, 2009

Kemiskinan dan Berbagai Perwujudannya

Minati Sinha (India)

Peneliti, Indian Institute of Technology Delhi, India

Ms. Sinha mendapatkan gelar Sarjana ekonominya dari Universitas Guwahati, Assam pada tahun 1999, Master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Jawaharlal Nehru, Delhi, di tahun 2002, dan Master of Philosophy dalam bidang Psychiatric Social Work dari Central Institut of Psychiatry, Kanke, Ranchi, Jharkhand di tahun 2005. Dia juga memiliki lebih dari 5 tahun pengalaman professional dalam bidang pembangunan sosia. Saat ini ia adalah mahasiswa Ph.D di IIT Delhi, Departemen ilmu Sosial dan Humaniora, India.

Oxford English Dictionary mendefinisikan poverty (kemiskinan) sebagai: Kondisi kepemilikan materi yang rendah atau tidak sama sekali; tanpa harta benda, papa, berkekurangan. Kamus itu juga mengajukan pendapat bahwa kata itu pertama kali digunakan kurang lebih tahun 1075 masehi. Akhir-akhir ini, kemiskinan memiliki arti yang lebih luas, dengan ditambahkannya sejumlah elemen-elemen selain ketiadaan materi, seperti ketertinggalan, kerentanan dan keterasingan dari masyarakat.

Kemiskinan memiliki wajah berbeda di negara yang berbeda, tergantung pada faktor seperti tingkat pendapatan dan konsumsi, dan juga pada berbagai indikator sosial dan akses sosial-politik. Ada perbedaaan pemahaman yang sangat besar tentang kemiskinan antara negara maju dan berkembang, yang berpengaruh pada jenis pertanyaan seperti apa yang bisa diajukan kepada kaum miskin untuk memahami tingkat kemiskinan mereka. Di Jepang, pertanyaan yang dapat diajukan termasuk di antaranya ada atau tidaknya oven microwave, mesin pemanas/pendingin (ac), pemanas air  (untuk dapur dan wastafel), dan sebagainya, padahal hal-hal tersebut dianggap sebagai kemewahan luar biasa bagi negara-negara dunia ketiga. Kontras dengan Jepang, di India, negara dengan populasi tertinggi di dunia dengan rasio kemiskinan tertinggi, benda-benda tersebut tidak pernah didengar oleh kaum miskin di sana, bahkan kadang juga tidak pernah didengar oleh sebagian orang di kelas menengah bawah. Kaum miskin di India hidup dalam lingkungan kumuh yang memprihatinkan. Jumlah pengemis yang menderita malnutrisi, kelaparan dan lain sebagainya semakin banyak karena mereka tidak bisa mendapatkan hampir semua jenis kebutuhan dasar, seperti listrik, sanitasi yang layak, air minum yang aman, tempat tinggal, sandang, pendidikan, dan mereka setiap hari perlu berjuang hanya untuk mendapatkan makanan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Untuk semakin menegaskan perbedaan besar jenis kemiskinan ini, dapat disebutkan bahwa perkiraan jumlah orang miskin di Jepang adalah kurang lebih 17,000 orang. Sementara di India, ada dua kelompok besar orang yang hidup di bawah garis kemiskinan (below the poverty line/BPL)[1], yaitu kaum miskin pedesaan dan kaum miskin kota[2]. Jumlah mereka masing-masing diperkirakan 170,3 juta orang untuk kaum miskin di daerah pedesaan dan 68,2 juta orang di perkotaan – dari total jumlah penduduk sekitar 1 milyar orang. Perbedaan besar lainnya dapat ditemukan dari tipe orang miskin di kedua negara itu. Di India, kemiskinan dialami dalam unit-unit keluarga yang menghadapinya bersama-sama. Terlebih lagi budaya India menyebabkan bahkan orang termiskin dari yang miskin tetap memiliki keluarganya masing-masing. Kaum miskin di Jepang hanya ada terutama dalam tiga kategori kelompok yang tidak diuntungkan (unpriviliged), yaitu kaum lansia, perempuan lajang, dan sebagian kaum muda. Jika kita mempertimbangkan baik jumlah dan tipe kaum miskin di kedua  negara itu, maka kita tidak bisa membandingkan kondisi kemiskinan keduanya. Sulit menemukan solusi yang serupa antara India dan Jepang untuk hal ini. Walaupun kemiskinan adalah konsep yang universal, ia tidak dapat diatasi dengan strategi universal.

Istilah KEMISKINAN tampaknya kurang tepat untuk menggambarkan jenis krisis yang sedang dihadapi sejumlah kelompok di dalam masyarakat Jepang, melampaui istilah semacam kemiskinan ‘absolut’ atau ‘relatif’. Kemiskinan adalah istilah spesifik untuk menggambarkan kondisi sekelompok orang dalam level krisis sosial-ekonomi tertentu, dapat diukur dengan menggunakan standar minimal yang dibutuhkan seseorang agar dapat mempertahankan standar kehidupan tertentu. Berdasarkan itu, jenis orang miskin di Jepang dapat dianggap hanya sebagai orang-orang yang ‘terpinggirkan secara sosial’ atau yang ‘relatif tidak mampu’ untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan karena berbagai macam alasan. Sebagaimana pernah didiskusikan sebelumnya[3], krisis semacam ini sulit dipecahkan karena krisis itu tidak begitu tampak. Walaupun begitu, juga dapat diasumsikan bahwa krisis ini tidak begitu terlihat karena ia sebenarnya tidak parah. Selama keburukan-keburukan sosial masih belum terlalu terlihat, hal-hal itu dianggap masih dapat diatasi, karena tidak ada satu manusia pun yang merasa senang mengungkapkan ketakberdayaannya sendiri. Tiga bagian masyarakat Jepang yang dianggap sebagai kelompok miskin Jepang, sebenarnya menderita karena satu sama lain. Ini adalah lingkaran setan, dimana sejumlah anak muda dengan berbagai kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi tumbuh menjadi orang dewasa yang kebingungan dan tanpa rasa percaya diri membentuk keluarga sendiri. Setelah dewasa, mereka antara akan terus bertahan sebagai pria lajang atau akan hidup di rumah penampungan di masa tua mereka. Atau jika mereka akhirnya menikah, ketidakmampuan mereka untuk membangun hubungan yang terhormat, dapat mengakibatkan perceraian dan, sebagai akibatnya, ibu lajang. Demikianlah prosesnya berulang karena para ibu lajang ini perlu merawat anak-anak dan diri mereka sendiri dengan pendapatan yang terbatas tanpa pertolongan suami dan tanpa ayah yang dapat diandalkan oleh sang anak. Para ibu ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk bertumbuh, dan mereka kemudian tumbuh menjadi remaja yang rentan dan seterusnya… Berdasarkan itu, sangat sulit untuk menentukan batas tertentu kemiskinan untuk kelompok-kelompok tertinggal dalam masyarakat Jepang ini, karena kebutuhan dasar minimum mereka tidak serupa.

“Kemiskinan sebenarnya merupakan tiadanya kebebasan untuk memiliki atau melakukan sejumlah hal mendasar yang kau anggap penting,” kata Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi dari India. Jika ini dianggap sebagai definisi dasar dari kemiskinan, maka tidak diragukan lagi Jepang sedang menghadapi kemiskinan.

Konsep-konsep kunci mengenai kemiskinan Jepang dapat didiskusikan lebih detil:

  • Feminisasi kemiskinan – satu persamaan antara negara paling maju dengan negara paling tertinggal di dunia adalah bahwa perempuan merupakan pihak yang menanggung beban kemiskinan paling besar. Feminisasi kemiskinan adalah isu yang lebih serius daripada isu kemiskinan secara keseluruhan. Agar dapat lebih terfokus, perempuan perlu diberdayakan sepenuhnya melalui pemberian pendidikan dan kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki. Seorang perempuan yang kuat akan menumbuhkan kaum muda yang kuat, kaum muda yang kuat akan bertumbuh menjadi orang dewasa yang penuh percaya diri, yang kemudian dapat memastikan masa tua yang aman.
  • Kemiskinan Kaum Muda – Kemiskinan Kaum Muda[4] akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian sebagai isu penting yang perlu diatasi. Ini bukan masalah yang hanya ada Jepang, namun semakin lama telah menjadi bagian dari masalah global. Kemiskinan Kaum Muda umumnya terjadi karena tiga masalah sosial besar, yaitu konflik antar kelompok, pencarian status dan identitas serta penolakan terhadap sistem sosial yang berlaku. Kemiskinan kaum Muda ada di semua negara, karena kebutuhan mereka tidak hanya berupa keamanan finansial namun juga keamanan sosial. Masalah ini sulit diatasi tanpa memberikan perlindungan yang layak pada kanak-kanak, dan bila tidak ada keterlibatan keluarga yang cukup atau tanpa perlindungan terhadap para orang tua dan pendidikan yang layak.
  • Kemiskinan dan usia tua – usia tua dan kemiskinan adalah satu paket kerentanan di tiap negara. Dapat dikatakan bahwa ini diakibatkan oleh kehidupan yang mekanis serta dampak ekstrim dari globalisasi. Orang-orang lanjut usia jatuh miskin karena masyarakat menciptakan keadaan dimana para orang lanjut usia diisolasi dengan paksa, setelah dibuang oleh keluarga mereka sendiri. Misalnya, tanpa pekerjaan yang berarti, tanpa harga diri, dan dianggap hanya sebagai cadangan, sehingga menjadi anggota keluarga yang tak diinginkan. Pensiun/menjadi lanjut usia berarti seseorang yang sebelumnya dianggap paling berpengalaman, asset berharga bagi masyarakat, dan simbol kehormatan keluarganya, tiba-tiba dianggap menjadi sebaliknya.

Walaupun globalisasi terbukti dapat mendorong pertumbuhan ekonomi; ia juga dapat menimbulkan sejumlah kerugian sosial. Globalisasi telah melebarkan jurang antara kaya dan miskin, membuat orang semakin termekanisasi, uang menggantikan budaya, dan semua perubahan ini berdampak langsung kepada generasi muda (kaum muda, yaitu mereka di antara usia 10 hingga 24 tahun. Mereka bukan lagi anak-anak, namun belum dianggap dewasa[5]) yang menghadapi perubahan tiba-tiba ini tanpa menikmati manfaatnya, sebagaimana bisa dilihat dari laporan terkini bahwa 70% kaum muda India tidak paham apa itu globalisasi sebenarnya[6]. Sayangnya, hampir separuh dari populasi dunia tidak mendapatkan keuntungan langsung dari meningkatnya kemakmuran global, karena hampir 3 milyar orang hidup dalam kemiskinan dengan pendapatan di bawah US$ 2 per hari[7].

Kaum muda Jepang juga berjuang keras untuk mengimbangi pesatnya perkembangan globalisasi. Dalam proses pertumbuhan ekonomi ini, para pemuda tidak mendapatkan keuntungan yang sama. Hanya sebagian dari mereka yang diberkati dengan latar belakang finansial yang kuat atau latar belakang akademik yang baik, yang punya kesempatan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya dan menanjak makin tinggi dan tinggi dalam kehidupan. Mayoritas sisanya, tertinggal dalam semua hal, tidak dapat menemukan posisinya sendiri tanpa bantuan/bimbingan/pedoman tentang berbagai alternatif jalan hidup yang dapat dipilih.

Pengamatanku dan Rekomendasi:

Ini adalah pengalaman pertamaku sebagai peserta dalam program semacam ini dan kesempatan pertama mewakili negaraku (India) di luar negeri. The JENESYS East Asia Future Leaders Programme “Overcoming Poverty through a Social Inclusion Approach: The Status Quo of Asia and Oceania in a Globalized Economy” telah membantuku berkembang sebagai seorang pribadi dan memperkuat kemampuan observasi saya untuk membuat analisa menggunakan berbagai sudut pandang. Aku belajar memahami sesuatu dari berbagai aspek, seperti gambaran kasar situasi kemiskinan berbagai negara, wajah dan struktur kemiskinan yang beragam, aspek sosial-ekonomi dari kemiskinan, sisi politis kemiskinan, kontribusi budaya terhadap bertumbuhnya kemiskinan; yang semuanya memainkan peranan sama pentingnya dalam membingkai isu kemiskinan dan upaya pencarian solusi yang mungkin dilakukan.

Perlu ada upaya yang sadar dan jujur ditujukan kepada kaum muda yang tertinggal untuk memahami tingkat penghargaan mereka terhadap diri sendiri. Adalah suatu hal yang perlu dikhawatirkan jika dalam satu negeri maju seperti Jepang, kaum mudanya menjadi bagian signifikan dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan miskin. Solusi masalah kemiskinan di Jepang dimungkinkan dengan memberikan perhatian yang layak terhadap kaum muda yang sedang bertumbuh dewasa dengan melibatkan orang tua mereka, memperhatikan pendidikan mereka, memberikan pekerjaan, dan menangani krisis emosional mereka dengan hati-hati. Mereka, sebagai masa depan suatu bangsa, seharusnya tidak mengalami kerentanan akibat disharmoni keluarga, aturan-aturan tabu, krisis sosial ekonomi, dan ketidakberfungsian pemerintah, dan lain sebagainya. Ketika kaum muda telah menjadi cukup percaya diri untuk menopang kehidupan mereka sendiri, masalah-masalah sosial lainnya dapat terselesaikan dengan sendirinya dan dengan relatif mudah.


[1] Pada skala harga tahun 1999-2000, batas kemiskinan nasional India adalah Rs 327,56 (untuk pedesaan) dan Rs 454,11 (untuk perkotaan) per kapita per bulan.

[2] National Sample Survey (NSS) melaporkan pada 1999-2000, jumlah orang yang hidup di bawa garis kemiskinan adalah 170,3 juta jiwa di daerah pedesaan dan 68,2 juta jiwa di perkotaan – dari total populasi 1 milyar jiwa.

[3] Prof. Aya Abe telah menerangkan tentang hal ini pada sesi kesimpulan JENESYS Future Leaders Program

[4] United Nations World Youth Report 2005 tentang Negara ‘berkembang’, terutama Asia Tenggara

[5] Sebagaimana didefinisikan oleh WHO

[6] Dari Centre of the Studies of the Developing Societies (CSDS) bertanggal 24 Desember 2008

[7] Sebagaimana disebutkan pada Better World Campaign, organisasi cabang dari United Nations Foundation, dalam serial makalah yang disusun untuk kampanye Pemilihan Presiden 2008, dan pemerintahan berikut (di India).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: