Noriko Calderon dan Xenophobia Jepang

May 12, 2009

oleh: Dipo Siahaan*

Noriko dan Dilemanya

noriko calderon-1Noriko Calderon menghadapi pilihan yang sulit. Ia harus memilih antara meninggalkan orang tuanya atau meninggalkan negeri yang dianggapnya sebagai kampung halamannya. Bukan masalah yang mudah untuk dihadapi oleh seorang anak perempuan yang baru berusia tiga belas tahun.

Masalah Noriko dimulai pada tahun 2006, ketika petugas imigrasi Jepang datang ke rumahnya dan menangkap ibunya Sarah Calderon karena telah memasuki Jepang secara ilegal. Tidak lama kemudian ayahnya, Arlan Cruz Calderon, ditangkap juga oleh petugas imigrasi. Mereka ditahan dan kemudian diperintahkan untuk meninggalkan Jepang kembali ke negeri asal mereka, Filipina. Noriko? Ia tidak ditangkap. Pemerintah Jepang membolehkan Noriko untuk tinggal sementara di Jepang sampai status resminya ditentukan: apakah ia dapat dianggap sebagai warga negara Jepang atau tidak.

Noriko sendiri tidak pernah tahu status ilegal kedua orang tuanya. Arlan dan Sarah Calderon tiba di dekade 90an di Jepang sebagai imigran Filipina, sebelum Noriko dilahirkan. Sarah tiba duluan pada tahun 1992, sedangkan Arlan menyusul setahun kemudian. Noriko sendiri dilahirkan pada tahun 1995 di Jepang. Nama ‘Noriko’ dipilih untuk menunjukkan bahwa ia lahir di Jepang. Tapi Arlan dan Sarah tetap memberikan nama ‘Calderon’ untuk anak perempuan mereka tersebut sebagai nama keluarga.

Mereka bertiga kemudian menetap di kota Warabi, prefektur Saitama, di seputaran Tokyo. Dengan bertambahnya usia, Noriko pun disekolahkan oleh kedua orang tuanya di sebuah sekolah. Ia sendiri tidak pernah diajarkan bahasa Tagalog, bahasa ibu kedua orang tuanya. Noriko hanya bisa berbicara bahasa Jepang. Sampai ketika kedua orang tuanya ditangkap oleh petugas imigrasi, Noriko merasa dengan sepenuh hatinya bahwa ia adalah orang Jepang, bukan orang Filipina.

Tapi ketika kedua orang tuanya ditahan, seluruh dunianya jungkir balik. Identitas kebangsaannya yang sebelumnya tak pernah ia pertanyakan, sekarang justru dipertanyakan oleh negaranya sendiri: apakah ia orang Jepang atau bukan? Ia memang tidak ikut ditahan seperti kedua orang tuanya. Namun Noriko sadar bahwa ancaman yang sama terhadap kedua orang tuanya berlaku juga bagi dirinya. Ia juga terancam diusir keluar dari Jepang. Ia terancam diminta ‘kembali’ ke Filipina. Satu ancaman yang bagi dia bukan hanya aneh, namun juga mengerikan. Aneh, karena ia tidak merasa berasal dari sana, sehingga bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa ia ‘kembali ke Filipina’? Mengerikan karena bagi dia Filipina adalah suatu tempat yang sama sekali asing dengan bahasa yang sama sekali tidak ia kuasai.

Tentu saja Arlan dan Sarah tidak menyerah begitu saja. Mereka tahu bahwa membawa Noriko keluar dari Jepang akan menyebabkan trauma serius pada anak itu. Mereka juga tidak mungkin meninggalkan Noriko untuk hidup sendirian di Jepang. Mereka seharusnya tetap tinggal secara bersama-sama. Untuk itu, mereka memutuskan untuk berjuang melalui jalur hukum dengan meminta bantuan seorang pengacara Hak Asasi Manusia, Shogo Watanabe. Menurut Watanabe, mereka seharusnya memiliki hak untuk tetap tinggal di Jepang. Karena bagaimana pun mereka telah tinggal di Jepang sudah sejak lama, mereka produktif, mereka membayar pajak, dan mereka telah menjadi anggota masyarakat yang baik dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan komunitas. Watanabe berpendapat bahwa tidak ada alasan untuk tidak memberikan status kewarganegaraan secara resmi bagi keluarga Calderon.

Perhatian Publik Jepang Terhadap Kasus Calderon

calderon in warabi-1Kasus mereka mendapat liputan yang luas dari media massa dan perhatian publik Jepang. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini.

Pertama, isu imigrasi (baik legal maupun ilegal) telah sejak beberapa lama menjadi isu yang kontroversial di Jepang. Jepang memiliki kebijakan imigrasi yang sangat ketat, terutama bila dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa. Sebagai akibatnya Jepang memiliki jumlah imigran yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara tersebut. Namun, selama beberapa tahun terakhir – terutama didorong oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja akibat mengecilnya jumlah tenaga kerja usia produktif – pemerintah Jepang mulai mempertimbangkan untuk membuka lebih lebar keran bagi migran dari negara-negara lain.

Kebijakan untuk mempermudah migran memasuki Jepang disambut dengan reaksi berbeda. Sebagian kelompok menganggap bahwa hal itu tidak bisa dihindari, karena alasan-alasan demografis dan karena globalisasi. Namun sebagian kelompok lain (terutama kelompok sayap kanan) menyambutnya dengan reaksi negatif. Mereka memiliki persepsi bahwa keberadaan orang asing di Jepang dapat mengancam kestabilan dan keamanan masyarakat Jepang. Mereka mengambil contoh tingginya angka kejahatan yang dilakukan oleh para imigran, terutama oleh imigran ilegal. Oleh sebab itulah dalam kasus keluarga Calderon mereka mengambil sikap tegas: keluarga Calderon harus diusir dari Jepang tanpa kompromi untuk memberi contoh pada orang-orang asing lainnya yang berencana memasuki Jepang secara ilegal.

Kedua, keberadaan Noriko membuat kasus ini menjadi tidak hanya sekedar masalah hukum melainkan juga masalah Hak Asasi Manusia. Noriko lahir dan dibesarkan di Jepang. Ia juga telah berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak merasa dirinya sebagai orang Filipina melainkan sebagai orang Jepang. Terlebih lagi, bila ia pergi ke Filipina, ia terpaksa harus memulai sekolah dari tingkat paling dasar karena ia sama sekali tidak menguasai bahasa setempat. Hal-hal seperti ini akan mengganggu proses pendidikan dan pertumbuhannya, dan bisa jadi akan menimbulkan trauma yang mendalam. Di lain pihak, Noriko baru berusia tiga belas tahun. Remaja usia tersebut sepantasnya hidup bersama dengan dan dalam pengawasan oleh orang tuanya. Memisahkan Noriko dengan orang tuanya adalah tindakan yang tidak patut dan melanggar hak asasi manusia. Oleh karena itu, pemerintah Jepang, demikian argumen kelompok yang mendukung keluarga Calderon, tidak bisa memutuskan kasus ini semata-mata dari sudut hukum saja. Pertimbangan hak asasi manusia perlu ikut dipikirkan dalam proses pengambilan keputusan mengenai keluarga Calderon. Dan menurut pertimbangan ini – paling tidak inilah salah satu argumen Shogo Watanabe, pengacara keluarga Calderon – pemerintah Jepang sepatutnya menganugerahkan kewarganegaraan penuh bagi keluarga Calderon tanpa terkecuali.

shogo watanabe-1

Watanabe juga menambahkan bahwa pemerintah Jepang pun menanggung sebagian kesalahan atas kasus ini. Menurut Watanabe, aparat pemerintah Jepang, dalam derajat tertentu, acap kali menutup mata mereka pada banyaknya imigran illegal yang memasuki Jepang pada dekade 90an. Hal ini karena “orang Jepang membutuhkan para imigran illegal ini untuk melakukan kerja-kerja kotor dan berbahaya yang tidak ingin dilakukan oleh orang Jepang sendiri”. Namun ketika kondisi ekonomi berbalik, perlakuan terhadap imigran illegal ini pun berbalik. Bagi Watanabe, perlakuan semacam ini sama sekali tidak adil bagi para imigran illegal. Oleh karena itu, ia menuntut agar pemerintah Jepang mengambil sikap yang bertanggung jawab atas Noriko dan kedua orang tuanya.

Makoto Teranaka, dari Amnesti Internasional cabang Tokyo juga mengaitkan kasus Noriko dengan isu Hak Asasi Manusia. Menurut Teranaka, keputusan yang diambil oleh Jepang sepantasnya tidak boleh melanggar konvensi PBB tentang Hak Anak yang juga telah diratifikasi oleh Jepang dan telah menjadi hukum di situ. Berdasarkan konvensi tersebut, Jepang tidak boleh memisahkan Noriko dengan kedua orang tuanya dan tidak boleh mengusir Noriko dari Jepang. Bila Jepang melakukan salah satu dari kedua hal tersebut, maka Jepang dapat dianggap telah melanggar hak asasi anak. Satu-satunya pilihan yang paling tepat dari sudut pandang hak asasi manusia adalah penganugerahan kewarganegaraan penuh atau paling tidak pemberian hak tinggal khusus sementara untuk semua keluarga hingga Noriko menyelesaikan studinya.

Begitu kentalnya isu hak asasi manusia dalam kasus ini, membuat salah satu agensi PBB mengenai HAM ikut bersuara. UNHRC (United Nation Human Right Commission) ikut bersuara. Juru Bicara UNHRC mengatakan bahwa mereka ikut memantau perkembangan kasus ini. Mereka juga berkata bahwa walaupun keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah Jepang dan mereka tak bermaksud mencampurinya, mereka juga ingin agar kasus ini dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengorbankan hak asasi manusia mereka yang terlibat di dalamnya.

makoto sakuraiNamun, kelompok-kelompok sayap kanan di Jepang membantah argumen yang diajukan oleh kelompok HAM tersebut. Status ilegal, bagi mereka adalah status ilegal. Noriko dan keluarganya perlu diusir keluar dari Jepang karena mereka telah melanggar hukum. Mereka pun mengorganisir demonstrasi-demonstrasi yang menyerukan pemerintah Jepang agar mengambil sikap tegas terhadap keluarga Calderon. “Pulangkan Keluarga Calderon!” demikian salah satu seruan mereka. Satu orang pemimpin demonstrasi sayap kanan itu, Makoto Sakurai, berkata bahwa Jepang seharusnya justru memulangkan keluarga Calderon tanpa kecuali, termasuk Noriko, karena bila tidak, “mereka (para imigran illegal) akan menganggap kita lembek. Jika kita bolehkan gadis itu (Noriko) tetap tinggal di Jepang, akan lebih banyak orang asing lain yang akan datang. Sungguh tidak bisa diterima!”

Demonstrasi kelompok-kelompok sayap kanan tersebut muncul saat berhembus berita bahwa pemerintah Jepang mungkin akan tetap membolehkan Noriko Calderon tinggal di Jepang, walaupun kedua orang tuanya akan tetap dipulangkan ke Filipina. Bagi kelompok sayap kanan, hal ini tidak bisa diterima sama sekali.

Akhir Perjuangan – Pilihan Noriko

Perjuangan legal keluarga Calderon dan pengacara mereka sendiri berkali-kali menemui kebuntuan. Sejak ditangkap mereka telah mengajukan permohonan kepada pengadilan Jepang agar memeriksa kasus mereka. Namun mereka kalah berkali-kali. Terakhir, mereka mencoba banding ke Mahkamah Agung Jepang. Namun, Mahkamah Agung menolak banding mereka pada September 2008.

Ketika banding mereka ditolak, mereka pun mencoba jalur lain dengan cara mengajukan petisi ke Kementerian Kehakiman Jepang. Mereka mengumpulkan tandatangan untuk petisi tersebut dari rekan-rekan kerja, teman sekolah, keluarga, tetangga, dan juga orang-orang lalu lalang di stasiun Warabi. Petisi itu kemudian mereka ajukan pada November 2008. Sebulan setelah itu mereka mendapatkan jawaban dari kementerian kehakiman: petisi mereka ditolak.

Keluarga Calderon pun sadar bahwa pilihan yang mereka punya semakin terbatas. Pertengahan Februari tahun ini, Kantor Imigrasi Jepang mengatakan bahwa batas ijin tinggal khusus mereka akan segera habis pada bulan Maret 2009. Oleh karena itu mereka meminta agar keluarga Calderon menetapkan tanggal deportasi mereka sebelum tanggal 27 Februari, kalau tidak mereka akan ditahan oleh imigrasi kemudian dideportasi paksa. Tidak lama setelah itu, Menteri Kehakiman Eisuke Mori, mengumumkan bahwa ia kemungkinan akan menolak Ijin Tinggal Khusus untuk semua keluarga Calderon, termasuk Noriko. Keluarga Calderon sendiri menolak tenggat waktu 27 Februari, karena bagi mereka tenggat waktu itu tidak mempertimbangkan bahwa Noriko baru akan menyelesaikan tahun ajaran sekolahnya pada tanggal 17 Maret. Ketika keluarga Calderon tetap tidak memberitahukan tanggal kepergian mereka dari Jepang hingga melewati batas waktu yang ditentukan, petugas Imigrasi menahan Arlan Calderon pada tanggal 9 Maret.

Pada akhirnya kantor imigrasi memperpanjang tenggat waktu penetapan tanggal kepergian itu menjadi tanggal 17 Maret, sesuai keinginan keluarga Calderon. Mereka juga menambahkan bahwa mereka bersedia memberikan Ijin Tinggal Khusus hanya kepada Noriko saja. Namun, bila hingga tanggal 17 Maret Arlan dan Sarah Calderon belum menetapkan tanggal kepergian mereka dari Jepang, maka pihak Imigrasi Jepang akan mendeportasi ketiganya secara paksa. Sebagai tambahan, pemerintah Jepang juga akan memberikan Ijin Kunjungan Khusus kepada pasangan Calderon bila ingin mengunjungi anak mereka di Jepang dalam satu tahun ke depan. Normalnya, orang yang dideportasi tidak boleh mengunjungi Jepang hingga batas waktu lima tahun. Itu adalah keputusan terakhir pemerintah Jepang.

Berdasarkan keputusan tersebut akhirnya dipastikan bahwa mereka tidak akan bisa tinggal bersama-sama sebagai satu keluarga di Jepang. Shogo Watanabe, menganggapi keputusan itu dalam nada marah. Katanya, “Mereka bilang mereka tidak bermaksud memecah keluarga ini, padahal justru itulah yang mereka lakukan.” Watanabe menambahkan bahwa ia juga bingung mengapa pemerintah Jepang bisa memberikan Ijin Kunjungan Khusus kepada pasangan Calderon namun tidak bisa memberikan Ijin Tinggal Khusus. Keputusan ini adalah keputusan kompromistis tipikal Jepang, yang mengaburkan esensi masalah yang dihadapi, yaitu hak asasi seorang anak untuk bisa tinggal dalam lingkungan yang kondusif terhadap perkembangan pribadinya dan hak orang tua untuk bisa ikut terlibat dalam perkembangan anaknya.

Bagaimana pun juga, sekarang pilihannya ada di tangan Noriko. Ia harus memilih antara tetap tinggal di kampung halaman pilihannya, yaitu Jepang, ataukah tetap bersama kedua orang tuanya? Bukan masalah yang gampang untuk dipecahkan. Yang sulit adalah ia harus memutuskannya dengan segera, dan juga karena sikap pemerintah Jepang semakin lama justru semakin keras. Tidak lama setelah penahanan Arlan Calderon, Eisuke Mori, Menteri Kehakiman, mengatakan bahwa ia kemungkinan akan menolak Ijin Tinggal Khusus untuk semua keluarga Calderon, termasuk Noriko. Ini adalah satu bentuk tekanan dari pemerintah Jepang terhadap keluarga Calderon agar cepat memutuskan.

Pada akhirnya, Noriko memilih untuk tetap tinggal di Jepang. Ia tahu bahwa ia tidak akan mampu bertahan di Filipina. Pada konferensi pers tanggal 13 Maret, Noriko dengan bercucuran mata mengatakan bahwa Jepang adalah negerinya, tanah airnya. Dan oleh sebab itu ia memohon kepada semua pihak yang berwenang agar ia diperbolehkan tinggal di situ.

Tanggal 16 Maret, Eisuke Mori, mengumumkan bahwa Kementerian Kehakiman akan memberikan Ijin Tinggal Khusus kepada Noriko selama satu tahun. Ia menambahkan bahwa Ijin ini bisa diperpanjang dan Noriko dapat mengajukan permohonan kewarganegaraan penuh pada saat ia mencapai usia 20 tahun. Arlan dan Sarah Calderon  akan dideportasi ke Filipina pada tanggal 13 April 2009.

Perjuangan panjang dan melelahkan itu pun akhirnya usai. Namun tampaknya tidak ada yang bisa dirayakan dari akhir yang seperti itu.

Jepang dan Xenophobia

demo pro norikoJepang, dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, adalah negara yang relatif tertutup bagi migran. Statistik menunjukkan bahwa angka penerimaan migran Jepang sangat kecil. Kalaupun ada migran yang tinggal di Jepang dalam jumlah besar, mereka adalah orang-orang yang memiliki darah Jepang dari orang tua mereka dan memutuskan untuk pergi ke Jepang, Kebanyakan dari mereka adalah orang Brazil keturunan Jepang. Kenyataan ini seringkali dijadikan basis oleh banyak orang untuk menuduh masyarakat Jepang sebagai masyarakat yang xenophobic (takut pada orang asing). Walaupun sulit dipastikan bahwa seluruh masyarakat Jepang xenophobic, tapi tampaknya elemen-elemen xenophobia memang ada dan hidup di dalam masyarakat Jepang. Terutama bila kita melihat retorika-retorika yang dilontarkan dalam demo-demo sayap kanan yang merespon kasus keluarga Calderon.

Hal ini, tentu saja, tidak sepenuhnya diamini bahkan oleh mereka yang mengikuti demo-demo sayap kanan tersebut. Daigo Hayashi, misalnya, salah seorang pengikut demo sayap kanan, berkata bahwa ia tidak punya masalah apa pun terhadap orang asing. Ia respek kepada orang asing dan bisa hidup berdampingan dengan mereka, asalkan mereka datang secara legal dan patuh kepada hukum setempat. Namun di lain pihak, ia percaya bahwa jumlah orang asing perlu dibatasi untuk masuk ke Jepang karena menurut dia orang asing dapat menyebabkan ‘gangguan besar’ dalam masyarakat. Ia kemudian mengambil contoh masyarakat Amerika dan masyarakat Eropa, dimana imigran diterima dalam jumlah besar. Dalam pandangan Hayashi, masyarakat Amerika dan masyarakat Eropa yang seperti itu adalah masyarakat yang gagal karena masyarakatnya begitu ‘chaotic’.

Seorang demonstrator lain, Iori Uchia berkata bahwa pada pokoknya ia bisa menerima migran asalkan mereka berasal dari Amerika dan Eropa, tapi tidak dari tempat lain. Terutama ia menolak imigran dari Korea dan Cina yang menurut pandangannya berpotensi untuk menjadi sumber pelaku kejahatan. “Kemana pun orang Korea pergi,” katanya, “angka kejahatan meningkat 100 persen.” Tapi Iori tidak bisa menunjukkan data yang bisa mendukung pernyataannya tersebut.

Keluarga Calderon sendiri menolak tuduhan bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat xenophobic. Menurut mereka pandangan yang diutarakan oleh kelompok-kelompok sayap kanan bukanlah pandangan yang mewakili mayoritas masyarakat Jepang. Mereka menunjuk pada fakta bahwa banyak orang yang bersedia mendukung perjuangan mereka dan memberikan tanda tangan mereka pada petisi yang mereka ajukan ke pemerintah Jepang.

Yang jelas, xenophobic atau bukan, kasus Noriko menampilkan secara telanjang berbagai tensi dalam masyarakat Jepang yang muncul akibat kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik, tekanan demografi yang timbul akibat angka pertumbuhan populasi yang minus, dan kecenderungan meleburnya batas-batas negara dan kebangsaan akibat proses globalisasi. Semua ini mengerucut pada pertanyaan-pertanyaan krusial mengenai migran dan keterbukaan Jepang: apakah Jepang perlu lebih membuka diri atau tidak? Apakah Jepang perlu lebih banyak menerima migran? Terlihat dari respon kasus ini, belum semua elemen masyarakat Jepang memberikan jawaban yang sama.

Penutup; atau Belum?

perpisahan naritaSenin, 13 April 2009, Arlan, Sarah dan Noriko berada di Narita. Shogo Watanabe, pengacara mereka berada di sana.  Sejumlah petugas imigrasi berada di sana. Wartawan berada di sana. Kilat kamera menyambar-nyambar, sorot lampu video terang sekali. Semua mengamati mereka. Menunggu. Tapi mereka bertiga tampaknya tidak peduli. Mereka bergandengan tangan. Erat sekali. Seolah tidak bisa lepas.

Noriko menangis.

Tapi seerat-eratnya genggaman tangan mereka, itu pun harus lepas juga. Sekeras-kerasnya Noriko menangis, itu pun harus berhenti pula. Esok adalah perjuangan baru, katanya. Mungkin bisa berlaku untuk saat itu pula?

Yang pasti perdebatan tentang Noriko dan tentang masa depan Jepang terkait dengan imigrasi, baru dimulai, dan akan terus berlanjut di masa depan.

* tulisan ini adalah opini pribadi penulis.

Sumber:
Disarikan dari berbagai berita tentang kasus Calderon, antara lain:

Girl Chooses Japan Over Parents, http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/7998048.stm, 14 April 2009

Japanese Ruling May Split Family, http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/7887704.stm, 13 Februari 2009

Filipino Girl Petitions to Stay, Keep Studying, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20081121a9.html, 21 November 2008

A Battle for Japan’s Future, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/fl20090414zg.html, 14 April 2009

Calderon Couple Exit Japan, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20090414a1.html, 14 April 2009

Calderon Resumes Classes As Parents Prep for Deportation, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20090409a6.html, 9 april 2009

Filipino Parents Deported, Leaving Japan-born Daughter Behind, http://mdn.mainichi.jp/mdnnews/news/20090414p2a00m0na017000c.html, 14 April 2009

Father Put in Detention Ahead of Deportation, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20090310a1.html, 10 Maret 2009

Calderon Girl Gets Year Stay, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20090317a5.html, 17 Maret 2009

A Young Life in Legal Limbo, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/fl20090210zg.html, 10 Februari 2009

The Sad Story of Noriko Calderon, http://globalnation.inquirer.net/mindfeeds/mindfeeds/view/20090415-199505/The-sad-story-of-Noriko-Calderon, 15 April 2009

Noriko Calderon’s Parents Leave Japan, http://www.japanprobe.com/?p=9781, 14 April 2009

Schoolgirls Told to Choose: Country or Parents, http://www.cnn.com/2009/WORLD/asiapcf/04/13/japan.philippines.calderon/index.html#cnnSTCText, 13 April 2009

Choice Between Japan and and Parents: What a Japanese Kid Decided? , http://www.associatedcontent.com/article/1649283/noriko_calderon_japanese_immigration.html, 21 April 2009

Calderon and Watanabe: 13 Year Old Girl Born in Japan Fights Deportation, http://www.e-fccj.com/node/4287, 10 Februari 2009

Calderon Hopeful as End Game Approaches, http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20090306a2.html, 6 Maret 2009

Juga bisa lihat ke sini untuk sejumlah data dan analisa mengenai masyarakat Jepang:

Chriss Burgess, Multicultural Japan? Discourse and the Myth of Homogeneity, di http://japanfocus.org/-Chris_Burgess/2389, dengan terjemahan bahasa Indonesia di: http://japanfocus.org/data/indo.multiculturaljapan.pdf, diakses 20 April 2009

Martin Jacques, Japan’s Failures to Own Up To Its Past Threatens Its Future, di http://www.guardian.co.uk/world/2005/apr/23/china.japan1, diakses 23 April 2009

United Nations, International Migration 2006, di http://www.un.org/esa/population/publications/2006Migration_Chart/Migration2006.pdf, diakses 22 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: