Manzai: Representasi Pemikiran Orang Jepang

February 13, 2009

Oleh:
Dewi Ariantini Yudhasari

Segala sesuatu yang kompleks termasuk di dalamnya adalah pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai masyarakat disebut sebagai budaya.(1) Ketika kita ingin berbicara tentang hal itu sebenarnya kita telah masuk dalam wilayah pembahasan culture studies. Culture Studies adalah suatu kajian tentang praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan dalam segala fenomena masyarakat seperti yang nampak pada budaya pop, media, sub-culture, gaya hidup, konsumerisme, identitas dan sebagainya.(2)


Fenomena budaya ini menjadi populer karena kuatnya kekuasaan budaya massa. Budaya massa dikatakan sebagai produksi massa yang menghasilkan budaya populer. Budaya massa telah menggantikan budaya rakyat (folk culture) yang merupakan budaya masyarakat yang sebenarnya. Budaya massa didominasi oleh produksi dan konsumsi barang material dan bukan oleh seni-seni sejati (true arts). Selain itu, hiburan masyarakat dalam penciptaan budaya massa tersebut didorong oleh motif pemerolehan laba.(3) Produk massa yang dihasilkan salah satunya adalah acara-acara hiburan yang disajikan melalui media komersil, seperti televisi, dan radio. Di antara produk budaya massa yang dpat kita lihat saat ini, yaitu tayangan acara teledrama atau sinetron, acara games dan acara gebyar panggung seperti acara Indonesian Idol yang menyedot demikian banyak perhatian mulai dari produser, perusahaan iklan, penonton dan sebagainya. Jika diperhatikan acara-acara hiburan semacam ini sebagai barang industri yang dikonstruksikan sebagai mesin pencetak untuk memperoleh keuntungan dalam industri hiburan. Demam gebyar panggung ini bukan hanya melanda negara maju. Negara berkembang seperti Indonesia pun menjadi pasar industri massa yang menguntungkan. Salah satu bentuk hiburan yang dikemas menjadi acara gebyar panggung contohnya Indonesian Idol, Akademi Fantasi (AFI) Super Mama Seleb Show, dan sebagainya. Sementara di Jepang salah satu representasi dari dunia panggung tersebut adalah Manzai Idol atau M-1 Grand Prix dan MBS Shinseidai Manzai Award yang merupakan ajang kompetisi manzai. Manzai adalah seni melawak yang berasal dari daerah Kansai, Jepang. Pertunjukan Manzai biasanya dilakukan oleh dua orang yang bercakap-cakap di depan penonton menceritakan cerita yang lucu, janggal, atau tidak masuk akal dengan irama berbicara seperti bersahut-sahutan. Kehadiran televisi yang mendominasi teknologi komunikasi menjadikan manzai sebagai sebuah fenomena budaya yang amat representatif.

Istilah manzai dipopulerkan pada tahun 1931 oleh Yoshimoto Kogyo untuk membedakan kesenian yang dipentaskan dengan seni bercerita lainnya seperti rakugo. Sebelum istilah ini dipopulerkan, lawakan jenis ini diberi nama Owarai. Istilah manzai yang diberikan Yoshimoto merujuk pada model lawakan Amerika yang telah ada saat itu yaitu stand-up comedy. Kita dapat melihat bahwa representasi manzai di Jepang mengacu pada model yang muncul dan sedang trend di Amerika saat itu.

Dalam perkembangan zaman, manzai banyak mengalami perubahan. Terlebih lagi setelah Yoshimoto memberi perhatian pada manzai, bentuk lawakan ini kemudian berkembang menjadi hiburan panggung yang menyegarkan dan disiarkan di televisi. Beberapa stasiun televisi seperti televisi Asahi, NHK, dan sebagainya menyiarkan acara ini secara rutin. Sejak tahun 80-an setelah adanya M-1 Grand Prix sebagai ajang kompetisi manzai, banyak sekali kelompok manzai baru yang bermunculan. Acara M-1 Grand Prix yang diadakan setiap tahun oleh Asahi Broadcasting Corporation dan Yoshimoto Kogyo bukan lagi hanya sekedar acara hiburan tetapi merupakan representasi panggung impian bagi para kelompok manzai yang berlomba-lomba untuk meraih impiannya menjadi bintang. Industri hiburan telah mengkonstruksikan manzai sebagai representative panggung fantasi di dunia entertainment Jepang. Pemenang kompetisi manzai memperoleh hadiah dana sebesar 10.000.000 yen. Oleh karena itu ajang gebyar panggung ini menjadi bergensi dan menjadi impian para kelompok manzai yang berlomba untuk memenangkan acara ini.

Menurut Stuart Hall (1997), representasi adalah salah satu praktek penting dalam memproduksi kebudayaan. Manzai yang telah ada sejak zaman Heian hingga sekarang ini tentunya banyak sekali mengalami perubahan. Perubahan ini dapat kita klasifikasikan menjadi beberapa hal yaitu, perubahan cara manzai dipentaskan, perubahan pada tema, perubahan pada bentuk panggung, perubahan pada kostum, perubahan teknik melawak, dan perubahan bahasa yang digunakan yang keseluruhannya merepresentasikan pemikiran orang Jepang. Sebagai bentuk perubahan yang bisa dicermati yaitu sebelum tahun 70an acara ini banyak diminati oleh para generasi tua atau tengah baya ketimbang generasi mudanya. Dapat dikatakan bahwa hiburan manzai merepresentasikan hiburan untuk kelompok generasi tua di Jepang saat itu, tetapi dewasa ini manzai merupakan acara hiburan bukan hanya diperuntukkan untuk kalangan dewasa tetapi juga telah masuk menjadi hiburan yang disukai para remaja Jepang.

Kata representasi yang dimaksud dalam makalah ini merujuk pada adanya pembuatan makna. Selain itu, Adam Briggs dan Paul Cobley (1998 ) dalam Media dan Budaya Populer (2008 ) mendeskripsikan bahwa representasi digunakan sebagai kendaraan untuk mentransmisikan ideologi dalam perluasan kekuasaan. Dari pernyataan di atas, manzai bukan hanya merepresentasikan kehidupan masyarakat di luar sana yang dikonstruksikan ke dalam sebuah kemasan hiburan yang dapat membuat orang tertawa, kesal atau menangis dan terlepas sejenak dari kondisi nyata di dunia nyata, tetapi manzai juga merupakan representasi orang Jepang itu sendiri. Representasi sangatlah ideologis. Subjek representasi adalah makna yang dimunculkan dari sebuah kondisi. Lalu, bagaimana makna itu diterapkan melalui sebuah kekuasaan yang memunculkan nilai-nilai yang mendominasi cara berpikir kita tentang masyarakat atau tentang sesuatu. Dalam makalah ini akan dibahas tentang representasi pemikiran orang Jepang dan ideologi yang tersirat dalam hiburan lawakan manzai.

1.    Asal Mula Manzai

Pada zaman Heian pertunjukan lawakan ini dilakukan secara berkeliling untuk merayakan tahun baru. Seni lawakan ini disebut manzai. Seni manzai pada zaman Heian dilakukan oleh dua orang, seorang menabuh gendang dan seorang lagi menari-nari untuk mengucapkan selamat tahun baru sambil mengunjungi rumah-rumah penduduk. Pada zaman Edo di seluruh pelosok Jepang bermunculan berbagai jenis manzai yang dinamakan sesuai nama tempatnyaa berasal seperti Mikawa manzai asal propinsi Mikawa, dan Yamato manzai asal propinsi Yamato. Pada saat itu, artis manzai tidak cuma memainkan musik dan menari, tapi juga bercakap-cakap menceritakan cerita lucu yang dimaksudkan untuk memancing tawa pendengar. Fokus lawakannya adalah semata-mata untuk menghibur. Pada jaman Meiji, manzai mulai dipertunjukan di dalam gedung di Osaka. Pasangan Tamagoya Entatsu, Sunagawa Sutemaru dan Nakamura Haruyo sering disebut sebagai pelopor manzai. Pada akhir zaman Taisho, Yokoyama Entatsu (1896-1971) dan Hanabishi Achako (pasangan pelawak Yoshimoto Kogyo) memulai gaya manzai tanpa musik, dan hanya terdiri dari percakapan. Manzai gaya baru ini disebut syabekuri manzai yang ternyata populer dan bisa diterima masyarakat luas. Yoshimoto Kogyo kemudian menyingkat sebutan syabekuri manzai menjadi manzai seperti yang dikenal sekarang. Selanjutnya, manzai yang dipelopori pasangan Entatsu-Achako menjadi terkenal, dan bermunculan pula bintang-bintang manzai yang baru. Dewasa ini manzai berkembang menjadi seni yang tidak hanya dipentaskan di gedung pertunjukan, melainkan juga di televisi dan radio.

2.    Manzai: Representasi Pemikiran Orang Jepang

Representasi mengacu pada konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia seperti dialog, tulisan, video, film, fotografi, dsb. Identitas datang dari suatu representasi. Identitas adalah bagian dari makna yang dimunculkan dengan merepresentasikan kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dengan cara-cara tertentu. Sebelum tahun 70-an, pertunjukan manzai dipentaskan untuk acara-acara tertentu seperti acara tahun baru setiap tahunnya. Lama kelamaan manzai mulai dipentaskan dalam sebuah pertunjukan panggung dimana penonton harus membeli karcis untuk menontonnya. Dengan kata lain, manzai pada zaman itu bukan merupakan hiburan yang dapat dinikmati oleh semua golongan masyarakat. Setelah industri pertelevisian berkembang di awal tahun 70-an, manzai mulai dipentaskan di televisi dalam acara-acara tertentu. Kondisi merubah manzai menjadi sebuah tontonan hiburan yang dapat dinikmati oleh semua golongan. Jika kita cermati, tahun 70-an juga merepresentasikan Jepang sebagai negara yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Asia. Industri pertelevisian juga mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan menjamurnya bentuk acara televisi yang dikemas menjadi sebuah produk hiburan massa. Acara lawakan manzai merupakan salah satu produk budaya yang diciptakan menjadi sebuah produk massa yang ditayangkan di televisi saat itu.

Dalam pertunjukan manzai, pelawak mempunyai banyak kebebasan. Pelawak boleh berbicara sambil melakukan gerakan yang lucu, berjoget-joget, hingga bahkan sampai memukul lawan bermainnya. Pasangan pelawak manzai disebut kombi. Seorang pelawak berperan sebagai si pintar (tsukkomi) dan seorang lagi yang berperan sebagai si bodoh (boke). Peran si bodoh adalah untuk menyampaikan cerita dengan isi yang memiliki kejanggalan, sehingga aneh atau lucu, dengan tujuan memancing tawa. Pelawak yang berperan sebagai si pintar bertugas menyela cerita si bodoh, dan membetulkan bagian-bagian yang dianggap janggal, sehingga penonton tahu saat harus tertawa. Pelawak yang menjadi si pintar, kadang-kadang menggunakan gaya sindiran, hiperbola, sarkasme dan lainnya untuk menyampaikan lawakannya yang berfungsi sebagai umpan agar si bodoh menjadi lebih lucu.

Jika kita perhatikan peran si bodoh (boke) dan peran si pintar (tsukkomi) dalam manzai, maka kita akan melihat gambaran masyarakat yang terwakili oleh karakter kedua orang pemeran manzai. Karakter si bodohy selalu identik dengan kalah, tertimpa kemalangan, merugi dan selalu ditindas. Sementara, karakter si pintar selalu identik dengan menang dan memperoleh keberuntungan. Hal ini sebenarnya merepresentasikan bahwa dalam masyarakat Jepang, kedua karakter ini mewakili karakter orang Jepang itu dalam masyarakatnya. Selanjutnya, dalam masyarakat Jepang kita juga mengenal adanya kalah dan menang. Kelompok kalah dapat direpresentasikan sebagai orang yang bodoh dan kelompok masyarakat yang menang dapat dipresentasikan dalam karakter si pintar dalam manzai.

Tema yang disuguhkan dalam manzai sebagian besar mengangkat tema yang terjadi di masyarakat. Jika diperhatikan dari perkembangan manzai itu sendiri, maka tema ini dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok tema namun dari sekian banyak tema yang disuguhkan tema kehidupan sehari-hari ini tetap eksis hingga sekarang ini. Dalam konteks ini, salah satu contoh tema yang diangkat adalah tema kehidupan sehari-hari berjudul Kodomo no Denwa Shoda nShitsu. Lawakan ini dibawakan oleh Downtown, pasangan manzai yang terkenal pada tahun 80-an. Dalam episode ini diceritakan bahwa seorang anak bertanya kepada sebuah biro konsultasi di telpon. Kisah ini merepresentasikan kondisi Jepang tahun 80-an di mana saat itu wanita Jepang mulai bekerja di luar rumah dan pada saat itu juga ada istilah kagi ko (anak kunci). Anak-anak tidak dapat bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya sehingga pemerintah Jepang menyediakan biro konsultasi melalui telpon. Selain itu, hal ini merepresentasikan bahwa ternyata biro konsultasi tersebut tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan si anak. Hal ini mengandung makna bahwa bagaimana pun juga pendidikan adalah tanggung jawab orang tua. Episode ini merupakan sindiran bagi keluarga Jepang saat itu. Dari salah satu contoh di atas, manzai dapat merepresentasikan kegelisahan orang Jepang akan masalah pendidikan anak dan pengasuhan anak.

3.    Manzai dan Ideologi Budaya Massa

Seiring dengan perkembangan acara televisi yang semakin beragam, manzai juga mengalami perkembangan dalam hal teknik tayangannya sebagai hiburan massa. Hal ini dapat kita perhatikan mulai dari setting panggung. Pada tahun 70-an, panggung tempat dipentaskannya manzai merupakan panggung yang cukup sederhana dan fokusnya bukan pada bentuk panggung tetapi pada kualitas lawakan manzai itu sendiri. Tetapi setelah munculnya M1 Grand Prix pada tahun 1983, panggung manzai berubah menjadi panggung pentas dengan aksesoris panggung yang beraneka ragam. Dapat disimpulkan bahwa manzai bukan lagi merupakan hiburan biasa melainkan merepresentasikan sebuah acara ajang kompetisi yang dikemas oleh adanya kuasa industri massa yang melihat sebagai sebuah peluang untuk mempopulerkan hiburan ini.

Jika kita perhatikan dari kelompok audience manzai, sebelum tahun 70-an, manzai banyak didominasi oleh audience orang dewasa atau orang tua. Jarang kita temui manzai yang audiencenya kelompok remaja atau generasi muda. Generasi muda Jepang yang dimaksud di sini adalah para remaja Jepang yang berusia antara 15-25 tahun. Tahun 80-an, ketika M1-Grand Prix menjadi ajang kompetisi manzai, kita masih melihat kelompok dewasa mendominasi ajang kompetisi ini walaupun sudah mulai muncul bibit-bibit pasangan manzai yang berasal dari kelompok generasi muda Jepang. Menurut John Fomas, generasi muda menciptakan budaya dan mengungkapkan identitas kebudayaan melalui penggunaan pelbagai komoditas. Budaya generasi muda menurut Fornas (1995) adalah “budaya orang-orang muda… mengungkapkan diri dalam tingkat yang tidak biasa dalam teks, gambar, musik, gaya, pertunjukan hiburan…” Budaya generasi muda menjadi menarik karena tidak hanya dipresentasikan di dalam media saja dalam hal ini radio dan televisi, tetapi juga membantu mengkonstruksi budaya itu sendiri.

Salah satu pasangan manzai yang populer tahun 80-an adalah Masatoshi Hamada dan Hitoshi Matsumoto. Mereka berasal dari daerah Amagasaki, Hyogo, Jepang. Mereka memulai debut karirnya sebagai pasangan manzai pada saat mereka memenangkan Grand PIX tahun 1983. Kelompok mereka pertama muncul menggunakan nama Hitomasashi yang merupakan kombinasi nama Hitoshi Matsumoto dan Masatoshi Hamada. Kemudian mengganti nama kelompoknya menjadi The Wright Brothers sebelum akhirnya mereka mengganti nama kelompoknya menjadi Downtown yang mengantarkan mereka menjadi bintang pada tahun 1983. Setelah empat tahun mereka berkarir sebagai bintang manzai, pda tahun 1987, mereka menjadi pembawa acara dalam dalam acara pertunjukan yang disebut Yoji Desu Yooda. Acara ini menjadi sangat populer di kalangan kelompok remaja khususnya siswi-siswi SMA. Acara ini mengetengahkan tentang musik, video dan fashion bagi remaja. Rating acara ini sempat mendongkrak industri iklan pada saat itu karena mereka membawakan acara itu dengan lawakan dan acara ini juga mampu mendongkrak popularitas mereka.

Selanjutnya, pada tahun 2003, setiap stasiun televisi berlomba-lomba membuat ajang kompetisi manzai, di antaranya Asahi Hooso dengan acaranya yang diberi judul MBS Shinsedai Manzai Award. Kemudian NHK tidak ketinggalan menggelar acara NHK Manzai Kontes, disusul oleh ABC Terebi yang mengemas acara ini dengan judul ABC Owarai Shinnin Grand Prix, Manzai Idol dan sebagainya. Hal ini merepresentasikan pemikiran orang Jepang yang sebenarnya menginginkan agar eksistensi produk budaya ini tidak pupus ditelan zaman. Di lain pihak, penguasa industri pertelevisian melihat hal ini sebagai peluang untuk meraup keuntungan. Jika kita perhatikan istilah “Shinseidai” sendiri atau dari istilah yagn digunakan ABC Terebi “Shinnin” merepresentasikan bahwa acara tersebut memang sengaja dikemas untuk konsumsi generasi muda Jepang. Acara MBS Shinsedai Manzai Award sejak diluncurkan tahun 2003 menjadi ajang kompetisi para remaja Jepang untuk menjadi bintang. Panggung manzai bukan lagi sekedar hiburan lawakan biasa melainkan merepresentasikan panggung idola dan panggung ajang kompetisi dalam meraih kepopuleran. Selain itu, ideologi manzai telah merasuk ke kalangan generasi muda Jepang dalam hal ini remaja Jepang. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya pasangan manzai yang setiap tahun mengikuti kontes Manzai Idol tersebut.

Dari segi kostum, kita juga dapat melihat adanya perubahan dalam manzai ini. Sejak tahun 1933, ketika Yoshimoto mempopulerkan istilah manzai ini, kostum yang dipergunakan dalam pentas panggung manzai adalah kostum dalam bentuk pakaian jas lengkap seperti pakaian pesta atau menggunakan tuxedo. Hal ini sebenarnya merupakan hasil transformasi ideologi Barat, dalam hal ini budaya Amerika, mampu melalui kostum yang digunakan dalam pementasan manzai. Manzai mengambil kostum yang hampir sama dengan kostum yang dipergunakan dalam bentuk lawakan stand-up comedy di Amerika. Namun, seiring berjalannya waktu kostum ini tidak lagi identik dengan ideologi negara Paman Sam tersebut melainkan juga merupakan ideologi yang dibawa oleh para generasi muda Jepang itu sendiri.

Selanjutnya, dari sudut tema atau topik serta ungkapan yang digunakan oleh pasangan manzai saat ini yang didominasi para remaja Jepang sangat merepresentasikan kelompok audiencenya. Tema-tema yang dipilih terkadang tidak dapat lagi dimengerti oleh generasi tua. Selain itu, bahasa atau ungkapan yang digunakan banyak menggunakan bahasa gaul. Hal ini juga dapat membentuk ideologi bahwa hiburan ini merupakan hiburan yang didominasi oleh para generasi muda Jepang itu sendiri. Mereka mengkonstruksikan hiburan ini menjadi sebuah dunia hiburan bagi kelompoknya.

Dengan kata lain, manzai merupakan hiburan yang sengaja dikemas sebagai sebuah produksi hiburan massa yang dikonstruksikan menjadi sebuah hiburan panggung idola bagi remaja Jepang untuk meraih popularitas dan menjadi bintang. Selain itu, bagi para penguasa dalam industri massa, manzai merupakan kendaraan untuk meraup keuntungan di bidang show business.

4.    Kesimpulan

Manzai merupakan fenomena budaya yang dikonstruksikan menjadi budaya massa yang memberi banyak keuntungan bagi para pelaku budaya khususnya dalam bidang industri hiburan. Manzai merepresentasikan identitas, kelompok dan pemikiran orang Jepang terutama pada tema-tema yang disajikannya. Selain itu, tanpa sadar, masyarakat telah dirasuki oleh ideologi manzai yang dikemas menjadi sebuah panggung idola yang digunakan untuk merepresentasikan budaya itu sendiri dan kelompok generasi muda Jepang sebagai ajang kompetisi untuk meraih popularitas dan menjadi bintang.

Catatan Belakang:

(1) Sador, Zianuddin. Broin Van Loon. Culture Studies. Ed. Richard Appignanesi. Jakarta: Mizan. 2001. p.4-5
(2) Ibid.
(3) Burton, Graeme. Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra.2008.p.39

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: