Apakah Kawaii?

September 25, 2007

Tulisan berikut adalah terjemahan dari tulisan Yomota Inuhiko yang berjudul ‘What is Kawaii?‘ Beliau sendiri telah memberikan ijin untuk melakukan terjemahan dan mendistribusikan tulisan ini secara bebas. Jadi, saya persilahkan kepada siapa pun yang ingin menggunakan tulisan beliau sebagai bahan bagi tulisannya sendiri. Mohon agar tidak lupa untuk mencantumkan sumbernya dengan jelas. Adapun mengenai tulisan aslinya dalam bahasa Inggris, mohon agar mengirimkan email kepada saya agar bisa saya kirimkan (dipo@jpf.or.id).

Tulisan ini beliau presentasikan pada sebuah ceramah yang diadakan di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, pada tangal 13 September 2007 yang lalu.


Apakah Kawaii?
Oleh: Yomota Inuhiko
Diterjemahkan oleh: Dipo Siahaan

1.
Walaupun secara historis menerima pengaruh yang sangat besar dari Cina dan semenanjung Korea, Jepang juga mengembangkan kebudayaan dan konsep keindahannya sendiri dari masa ke masa. Kaum bangsawan pada abad ke 11 menggunakan frase mono no aware untuk mengungkapkan perasaan kompleks seseorang ketika melihat keindahan yang bersifat sementara (i). Para penyair di abad ke13 juga banyak menggunakan kata ushin, atau sebuah sensasi kelembutan yang tidak diucapkan secara tersurat namun tersirat di antara baris-baris puisi. Para Ahli Upacara minum teh abad ke 16 sangat membenci kemewahan, dan berpendapat bahwa keindahan sebenarnya tersembunyi di dalam ketidakteraturan dan kebetulan-kebetulan. Istilah yang mereka gunakan untuk keindahan semacam itu adalah wabi. Kaum Geisha di abad ke 18 menggunakan kata iki untuk menggambarkan keindahan yang tercipta karena kepasrahan pada takdir dan nasib.

Demikianlah konsep-konsep keindahan yang pernah berkembang dalam kebudayaan Jepang dari masa ke masa. Kawaii adalah konsep keindahan masyarakat Jepang yang terbaru, yang dilahirkan oleh masyarakat konsumsi massa pada akhir abad 20.

2.
Secara sederhana, kawaii dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berukuran kecil, mampu membangkitkan kenangan, bersifat pribadi, dan tidak berbahaya, sedemikian rupa sehingga seseorang akan bersikap lebih terbuka dan santai apabila dihadapkan pada sesuatu yang bersifat kawaii. Sebuah benda tertentu, dapat diberi label sebagai kawaii, namun pada konteks yang berbeda benda yang sama dapat diberikan label yang sebaliknya (kawaikunai – tidak kawaii). Demikian pula hal yang sebaliknya bisa berlaku, sebuah benda yang dianggap seseorang sebagai kawaikunai dapat dianggap oleh orang lain sebagai kawaii. Pada intinya, ketika seseorang sudah menyatakan sebuah objek sebagai kawaii maka benda tersebut secara otomatis telah menjadi kawaii. Mengapa? Karena tindakan menyatakan ke-kawaii-an suatu benda adalah merupakan kawaii itu sendiri.

3.
Istilah kawaii itu sendiri pertama kali muncul pada abad ke 12, dalam bentuk kata asli kawayushi, yang sebenarnya merupakan kombinasi dari dua kata, yaitu Kao (wajah) dan hayushi (wajah yang memerah karena stimulasi emosi tertentu, baik rasa malu, canggung, atau perasaan bersalah). Makna awal ini perlahan-lahan mulai memudar, dan kata tersebut mulai mengambil makna yang baru, yaitu: ‘sesuatu yang mengundang perasaan simpati’, dan bahkan ungkapan rasa simpati itu sendiri. Makna tambahan lainnya adalah ‘perasaan tidak mampu untuk mengabaikan sesuatu’ atau ‘hasrat untuk menjaga, melindungi dan memelihara’. Saat ini, makna kata yang sama telah berkembang lebih jauh menjadi merujuk pada benda-benda yang berukuran kecil, disayangi, indah, dan diingini. Dalam maknanya yang negatif, kawaii juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat ‘kekanak-kanakan’, ‘tidak berharga’, atau ‘konyol’.

Apabila mencari padanan katanya dalam bahasa Inggris, maka pilihan kata yang pertama muncul adalah cute. Namun, kata bahasa Inggris cute berasal dari akar kata acute yang berasal dari akar kata bahasa Latin acutus –berarti ‘sepenuh hati’ atau ‘cerdik’. Dengan demikian cute hanya dapat menerangkan satu aspek makna dari istilah kawaii. Frase seperti ‘kawaii onsen’ (orang tua yang kawaii) yang dapat diucapkan dengan mudah dalam bahasa Jepang, tidak dapat diterjemahkan semudah itu ke dalam bahasa Inggris menjadi cute old man (ii). Saya harus mengakui bahwa saya pernah merasa sangat kaget dan bingung ketika pada tahun 1989 – menjelang saat kematian Kaisar Hirohito – seorang penulis perempuan menuliskan bahwa ‘Sang Kaisar Kawaii’.

4.
Apabila kita memanggil seorang perempuan cute dalam bahasa Inggris, maka hal ini akan menimbulkan masalah political correctness (iii). Hal ini karena istilah cute dalam bahasa Inggris – sebagaimana halnya carina dalam bahasa Italia – dalam banyak hal merujuk pada seorang perempuan yang masih kekanak-kanakan dan tidak dewasa, seorang perempuan yang belum dianggap sepenuhnya dewasa, atau seorang perempuan yang terlihat murahan. Namun, masyarakat Jepang menerapkan skala ukuran yang berbeda. Ketidakdewasaan adalah sebuah kualitas yang diinginkan. Jika seorang pria Jepang berkata pada seorang perempuan Jepang, “Anda cantik” – dalam bahasa Jepang, kimi wa utsukushii – sang perempuan hanya akan tertawa dan berpikir bahwa pria itu hanya bermaksud mengejek dia. Namun, jika laki-laki tersebut berkata ‘Anda cute’ – kimi wa kawaii – dia akan percaya pada kata-kata tersebut dan bahkan menganggapnya sebagai pujian atas kewanitaannya. Masyarakat Jepang adalah masyarakat yang sama sekali tidak tertarik pada kecantikan seperti Catherine Hepburn, namun lebih tertarik pada ‘wajah lucu’ Audrey Hepburn dan bahkan hingga meniru gaya rambutnya.

Majalah-majalah perempuan di Jepang selalu berkutat pada pertanyaan bagaimana agar bisa terus mempertahankan keberadaan para perempuan yang kawaii. Majalah-majalah remaja perempuan bukanlah satu-satunya majalah yang bertujuan membangkitkan hasrat konsumsi melalui promosi busana yang kawaii. Majalah-majalah yang berpangsa perempuan dengan usia yang lebih tua juga seringkali menurunkan sejumlah artikel khusus tentang bagaimana caranya menjadi orang dewasa yang kawaii. Bahkan majalah-majalah kesehatan yang ditujukan bagi pembaca usia tua juga mempromosikan kawaii sebagai sebuah pengetahuan kehidupan yang dapat membantu seseorang mendapatkan vitalitas usia mudanya kembali.

5.
Benda-benda kawaii tampaknya hadir dimana-mana di dalam masyarakat Jepang. Di sudut jalan kau dapat menemukan mesin foto, sebuah mesin dimana kau bisa mengambil foto dirimu sendiri, dalam gaya yang kau pilih sendiri, untuk kemudian dicetak pada stiker-stiker seukuran perangko. Kau juga dapat menuliskan kata-kata atau menggambarkan symbol apapun yang kau inginkan di atas gambar dirimu. Remaja perempuan Jepang senang sekali membuat gambar-gambar melalui mesin ini, untuk kemudian saling menukarkan gambar sendiri dengan gambar-gambar teman mereka.
Perhatian yang khusus pada benda-benda berukuran kecil sebenarnya merupakan sebuah tradisi yang berakar lama dalam kebudayaan Jepang. Sastra Jepang, misalnya, tidak pernah menghasilkan puisi-puisi yang panjang, malah mengembangkan puisi-puisi pendek dalam bentuk waka dan haiku. Bonsai dan netsuke dihargai justru karena ukuran mereka yang kecil. Kaieseki Ryori dari Kyoto – sejenis makanan kecil di dalam upacara minum the – terkenal karena menghidangkan serangkaian hidangan dalam ukuran kecil. Ketika Hollywood menghasilkan Jurassic Park, Jepang justru menghasilkan Pokemon, monster-monster yang demikian kecil sehingga dapat masuk ke dalam kantong baju. Sepanjang sejarah kebudayaan Jepang, orang cenderung kurang berminat kepada benda-benda berukuran besar atau berlebihan dalam kesenian. Sebaliknya, mereka malah terpesona pada benda-benda berukuran kecil, rapuh dan delicate.

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa ‘nostalgia’ adalah salah satu elemen pembentuk kawaii. Frederic Jameson mengatakan bahwa ‘nostalgia’ berada di jantung imaji kebudayaan masyarakat kapitalis maju. Ketika kawaii dikomodifikasikan dalam kebudayaan konsumsi, konsep ini menyimbolkan perasaan sentimental terhadap masa lalu yang (semakin lama semakin) indah. Pertemuan kembali dengan seorang teman yang sudah lama hilang adalah tema melodrama yang terus menerus ada dalam komik-komik Jepang. Boneka-boneka kecil mengingatkan kembali pada betapa sederhananya gaya hidup masyarakat Jepang kebangkitan ekonomi, sehingga boneka-boneka ini menjadi souvenir kawaii yang selalu dicari. Namun nostalgia semacam ini secara cerdik menyembunyikan sejarah yang sebenarnya terjadi. Ketika kawaii – sebagai sebuah ideologi – menguasai masyarakat, kejadian-kejadian masa lalu yang tidak mengenakkan Jepang secara otomatis terhapus, dan ‘orang lain’ di luar orang Jepang pun menjadi terabaikan. Dunia kawaii haruslah dunia yang polos dan penuh dengan kenangan indah; dunia ini tidak boleh menyimpan ancaman dalam bentuk apa pun. Sebagaimana halnya sejarah dirubah oleh nostalgia, social others juga dibungkus dalam prasangka-prasangka bersifat etnis, dan pada saat itulah mereka dikebiri.

6.
Film Jepang yang pertama dibuat pada tahun 1898. Setelah itu, film Jepang menggabungkan gaya teater popular tradisional (seperti kabuki dan shinpa) dengan melodrama gaya Hollywood. Atau dalam kata lain, film Jepang pertama adalah kombinasi antara teater lokal pre-modern dengan film barat modern. Film Jepang kemudian mendapat perhatian dunia ketika pada decade 50an Mizoguhi Kenji dan Kurosawa Akira menuai sukses dalam berbagai festival film luar negeri. Produksi film memuncak di awal 60an, dan dengan segera menurun setelah itu. Pada dekade 90an, film-film Jepang mendapatkan dorongan dari film-film produksi Negara-negara Asia Timur lainnya, dan akhirnya menunjukkan tanda-tanda kebangkitan kembali. Mereka yang sangat berperan pada perkembangan ini adalah sutradara semacam Kurosawa Kiyoshi, Miike Takashi, dan Kitano Takashi, serta beberapa orang pembuat film documenter dan animasi. Animasi, pada khususnya, dengan segera berkembang dalam skala besar, dan saat ini menjadi penghasil dari 60% produksi film dunia. Animasi didistribusikan ke seluruh dunia, dan efeknya dapat terlihat pada sub-culture dan counter-culture di tempat tujuannya. Dari segi film seni, muncul juga sutradara yang menggunakan pendekatan artistik seperti Oshii Mamoru.

7.
Film animasi Jepang saat ini punya dua karakteristik utama. Pertama adalah bahwa kebanyakan cerita selalu berputar pada benda-benda yang bersifat kawaii. Kedua adalah bahwa banyak sekali film animasi yang menampilkan gadis petarung cantik yang melawan musuh yang menakjubkan. Karakteristik pertama memiliki akar yang kuat dalam sejarah Jepang. Tapi karakteristik kedua sebenarnya cukup aneh apabila mempertimbangkan konteks masyarakat Jepang sekarang ini. Jepang adalah sebuah negara yang tidak memiliki sistem wajib militer, dan bahkan tidak memiliki militer sendiri. Mengingat bahwa kata ‘perang’ jarang sekali dibicarakan kecuali sebagai sebuah peristiwa tak diinginkan yang terjadi lebih dari 60 tahun yang lalu, menjadi aneh sekali bahwa justru tema perang menjadi tema yang sering sekali diangkat dalam anime Jepang.

Saya ingin membahas sebuah serial animasi yang mewakili penyatuan kedua karakteristik utama di atas yang sudah saya sebutkan, yaitu Sailor Moon, yang didasarkan pada komik yang dibuat oleh Ikeuchi Takeko. Dalam Sailoor Moon, sang jagoan adalah seorang gadis normal yang hidup di Jepang masa sekarang. Sang gadis adalah seorang perempuan cengeng yang selalu membuat kesalahan-kesalahan kecil, menyebabkan orang-orang lain sering mentertawakan dia – dalam kata lain, seorang gadis yang sangat kawaii. Melalui serangkaian peristiwa kebetulan, dia menemukan bahwa dirinya sebenarnya merupakan inkarnasi dari bulan. Dia adalah sang Beautiful girl Warrior Sailor Moon, yang harus bertarung untuk menyelamatkan bumi. Dia menemukan gadis-gadis lain di kelas dan sekolah yang sama yang merupakan inkarnasi dari planet Mercuri, Venus, Jupiter dan Saturnus. Semua memiliki kekuatan supernatural atau kepandaian yang luar biasa, dan semuanya juga tidak bisa akrab dengan teman-teman kelas mereka yang lain.

Bumi pun jatuh dalam kekuasaan jahat. Ancaman ini direpresentasikan dalam figur perempuan dewasa yang seksi, para penyihir perempuan dan ratu es. Kelima pejuang perempuan harus bertarung siang dan malam untuk menyelamatkan bumi dari para dewi-dewi jahat tersebut, namun sihir lawan mereka terlalu kuat, dan tubuh para pahlawan perempuan sangat halus dan rapuh. Mereka pun terdesak. Namun, di tengah-tengah pertempuan, seorang pria bertopeng dan mengenakan tuxedo muncul dari langit. Dia menghancurkan para penjahat dengan segera, menyelamatkan para gadis, dan langsung menghilang. Kemenangan pun menjadi milik Sailor Moon dan kawan-kawan. Bumi pun diselamatkan lagi dari kuasa jahat.

Sailor Moon pertama kali ditulis sebagai buku serial komik pada awal 90an. Segera setelah itu, komik ini diangkat menjadi serial televisi dan langsung menarik hati kaum perempuan dari usia anak-anak hingga remaja. Popularitasnya pun menjadi fenomena internasional, dan gambar-gambar Sailor Moon pun digunakan dalam poster kereta api di Italia dan dalam kartu ucapan selamat tahun baru di Beijing. Jika kita mengamati komik ini dengan lebih serius, maka kita bisa melihat bagaimana konsep kawaii dimaknai dalam kebudayaan Jepang.

Sesuatu yang sempurna tidak bisa menjadi kawaii. Pahlawan Sailor Moon tidaklah cantik secara umum. Dia adalah seorang gadis yang manja dan kikuk yang selalu membuat kesalahan-kesalahan kecil. Baik dalam komik dan filmnya, para gadis kawaii ini membentuk komunitas yang lekat dan intim, sebagai sebuah tempat dimana mereka dapat saling menceritakan rahasia mereka. Kedewasaan adalah lawan dari kawaii, dan wanita dewasa yang menggoda adalah musuh utamanya. Ketidakdewasaan yang abadi – yaitu suatu periode usia dimana garis pemisah gender antara laki-laki dan perempuan belum tercipta secara sempurna – dianggap sebagai syarat utama untuk kawaii. Dalam cerita Sailor Moon, Keberadaan yang kawaii dapat tersambung dengan dunia yang tidak biasa, dan bahkan dalam suatu momen transformasi fisik tertentu dapat memasuki dunia tersebut. Proses penyambungan antar dunia ini penuh dengan analogi tentang kebetulan, pemujaan, persaingan, dan kerja, dan sangat dekat dengan definisi yang pernah diberikan oleh Roger Cailois tentang ‘Permainan’.

Hal yang tidak boleh dilupakan tentang Sailoor Moon adalah ketika para gadis menghadapi bahaya, orang yang menyelamatkan mereka adalah pria lebih tua yang misterius. Seorang psikoanalis pernah menganalisa dongeng ‘Putri Salju’ dan menyimpulkan bahwa suara cermin yang mengumumkan siapa gadis yang tercantik di dunia sebenarnya adalah suara laki-laki. Analisa ini memberikan satu petunjuk penting tentang kondisi pikiran bawah sadar perempuan. Pengamatan yang sama dapat diterapkan pada film animasi Jepang. Betapa pun hebatnya para gadis tersebut menghadapi lawannya, mereka selalu diselamatkan dan dilindungi oleh laki-laki yang memiliki kemampuan lebih kuat. Dalam situasi tersebut, kawaii telah beralih dari tahapan pengenalan-diri-yang-rahasia, menjadi bersifat coquetry (malu-malu tapi mau), sebuah taktik memanfaatkan ketergantungan mereka pada laki-laki. Di sinilah elemen ideologi kawaii menjadi sangat mencolok.

8.
Ketertarikan anak muda terhadap karakter-karakter animasi dalam bahasa Jepang disebut sebagai Moe. Moe secara harafiah berarti energi mental yang terbangkitkan dan terbakar. Saat ini semakin banyak anak muda di Jepang yang menghindari perempuan sebenarnya dan melimpahkan gairah seksual mereka kepada karakter virtual dalam manga dan anime. Mereka adalah anak-anak muda yang tertutup dan sangat menyukai mengoleksi gambar-gambar gadis-gadis cantik. Selama hobi itu tidak berlebihan, ketertarikan terhadap ‘kecantikan’ gadis muda, secara historis, dapat diterima di masyarakat. Para pemuda semacam ini sering berkumpul di distrik Akihabara di Tokyo, sebuah tempat yang unik dimana seseorang bisa mendapatkan berbagai variasi benda seperti manga dan VCD.

Di sisi lain, bahkan di antara para gadis sendiri, saat ini telah menjadi populer membeli kostum karakter anime tertentu dan memakainya di jalan atau tempat-tempat umum, untuk kemudian mencoba meniru karakter manga atau anime tersebut. Kegiatan ini disebut sebagai costume play, yang biasanya dikenal secara singkat dengan kata kosupure. Para gadis yang tergila-gila pada kosupure biasanya akan membentuk kelompok-kelompok dan kemudian akan keluar menampilkan diri mereka di tempat umum pada saat-saat tertentu. Transformasi ini dimungkinkan terjadi dalam satu masa tertentu, sebuah tindakan memasuki dunia yang tidak biasa. Para gadis itu pun dapat mengalami sensasi mabuk (?) yang timbul karena memerankan tokoh pahlawan dalam Sailor Moon. Melalui cos-play juga, para gadis pun dapat menjadi kawaii. Di Jepang “Lolita” bukanlah sebuah istilah yang kotor(iv). Salah satu genre dari gaya berbusana ‘kawaii’ adalah yang dinamakan ‘Gothic Lolita’, yaitu sebuah gaya berpkaian yang bahkan memiliki majalah mode mingguannya sendiri. Bahkan hingga sekarang.

9.
Seluruh dunia saat ini dibanjiri dengan berbagai benda kawaii. Kemana pun kau pergi, kau akan selalu bisa menemukan anime Jepang, Pokemon dan Hello Kitty. Kebudayaan popular Jepang tidak pernah melintasi batas-batas dunia seperti yang terjadi saat ini. Kawaii muncul dari keunikan yang terdapat dalam kebudayaan, tapi begitu keunikan itu dibuat menjadi ‘tak berbau Jepang’ dalam globalisasi saat ini, kawaii pun dapat dengan mudah mencapai berbagai penjuru dunia. Di dalam Jepang sendiri, ada beberapa orang yang mencoba mengangkat fenomena ini sebagai sumber bagi nasionalisme kebudayaan Jepang, namun ini merupakan sikap yang kurang tepat. Kawaii sebenarnya hanya bisa muncul di dunia, ketika konsep itu telah dilucuti dari simbol-simbol ke-Jepang-annya [telah berhenti mewakili Jepang?].

Namun, jika kita menganggap kawaii sebagai mitos sosial modern, kita juga harus hati-hati dalam mengamati makna tersembunyi yang dibawanya ke dalam masyarakat konsumsi popular saat ini. Ketika imaji tentang gadis-gadis tanpa bangsa dan sejarah atau tentang binatang yang dimanusiakan dan sangat tidak realistis, disirkulasikan ke seluruh dunia sebagai pilar utama konsep kawaii, kita juga harus melihat hal-hal apa sajakah yang telah dihilangkan dari dalamnya.

Saya pernah mendapat kesempatan mengunjungi reruntuhan di kamp konsentrasi di Auschwitz. Di sebuah dinding dalam sebuah ruangan besar tempat para orang Jahudi mencuci wajah mereka, ada sebuah lukisan dua ekor kucing yang sangat lucu. Gambar itu jelas digambarkan oleh pihak penguasa kamp itu. Di depan mata kita sendiri, dunia dibanjiri dengan berbagai benda kawaii. Namun, kita perlu mengamati dengan lebih jelas lagi, sebenarnya apakah yang telah disembunyikannya dalam kesadaran kita.

catatan belakang:

(i) Frase mono no aware sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun karena maknanya yang sangat kontekstual dengan kebudayaan Jepang. Terjemahan di atas adalah terjemahan yang bersifat sebagian dan tidak menyeluruh. Makna frase ini mencakup berbagai perasaaan manusia yang sangat kompleks seperti rasa kekaguman, ketakutan akan kehilangan, dan juga ketidakberdayaan. Penggambaran paling tepat terhadap frase ini mungkin dapat dilihat pada perasaan orang Jepang ketika melihat bunga Sakura. Sakura adalah bunga yang sangat indah, namun hanya mekar selama seminggu. Pada saat melihat Sakura, ada serangkaian perasaan kompleks yang timbul seperti rasa kekaguman pada keindahan sakura, ketakutan/kesedihan yang muncul karena tahu bahwa sakura itu pasti akan segera hilang, dan rasa tidak berdaya untuk mencegah semuanya terjadi. – penerjemah

(ii) Mungkin kata ‘lucu’ dalam bahasa Indonesia adalah kata yang memiliki makna terdekat dengan makna ‘kawaii’ walaupun lucu tampaknya hanya mencakup aspek positif dari kawaii saja.Kita juga jarang mengatakan ‘orang tua yang lucu’. Lebih jauh lagi, kalimat seperti ‘SBY lucu’ atau ‘presiden lucu’ mungkin jarang kita gunakan, dan kalaupun digunakan kemungkinan besar adalah dengan maksud untuk mengejek atau menyindir. Jelas bukan sebagai sebuah jenis pujian — penerjemah

(iii) Political Correctness merupakan ketepatan penggunaan suatu kata secara politis. Ketepatan penggunaaan kata ditemukan pada kesesuaian makna yang terkandung di dalamnya dengan kondisi sosial-politis pada saat kata tersebut digunakan. Misalkan: istilah ‘negro’ akan tepat digunakan pada Amerika Serikat yang masih menganut sistem perbudakan karena makna yang terkandung dalam kata tersebut yang merendahkan orang kulit hitam. Namun istilah yang sama akan menimbulkan masalah political correctness pada masyarakat Amerika Serikat yang tidak lagi menganut sistem perbudakan. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja ‘menggagahi’ – yang berarti memperkosa – adalah sebuah kata yang politically correct bagi masyarakat yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki dan yang menganggap bahwa tindakan memperkosa adalah sebuah tindakan yang ‘gagah’. Namun, bagi masyarakat yang tidak menganut pandangan seperti itu maka kata ‘menggagahi’ adalah kata yang akan menimbulkan masalah political correctness karena maknanya yang melecehkan – baik perempuan dan laki-laki – dan ketidak tepatannya makna tersebut dengan pandangan yang terdapat dalam masyarakat.

(iv) ‘Lolita’ adalah sebuah istilah yang diambil dari sebuah novel berjudul sama karya Vladimir Nabokov. Novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki berusia dewasa yang jatuh cinta dan mengadakan hubungan seksual dengan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Sejak novel kontroversial ini diterbitkan, ‘Lolita’ dalam bahasa Inggris menjadi sinonim dengan makna ‘gairah seksual tidak wajar terhadap anak perempuan di bawah umur’. Namun, karena satu dan lain hal, istilah yang sama tampaknya mendapatkan makna yang berbeda di Jepang. — penerjemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: