Heteropia?

September 17, 2007

Oleh Dave Lumenta

Diterjemahkan oleh Dipo Siahaan

diambil dan diterjemahkan dari: http://asianbordertraveler.blogspot.com/ dengan seijin penulis.

Seorang teman Yunani pernah menberikan definisinya tentang heteropia sebagai “sebuah lokasi dimana berbagai objek (komoditas, manusia dan ide) yang (seharusnya) tidak bisa berada di satu tempat, tiba-tiba bertemu, saling berinteraksi dan bertabrakan satu dengan lainnya, dalam satu ruang dan rentang masa tertentu.

Aku tidak tahu seberapa jauh temanku itu merujuk pada ide-ide yang pernah dikemukakan oleh Foucault, Baudrillard (+), atau Homi Bhaba, tapi dia memberikan beberapa contoh konkrit untuk menjelaskan maksudnya: VCD Jean-Claude Van Damme di kampung-kampung yang ada di Kalimantan, kaus dengan gambar Britney Spears yang dikenakan oleh pedagang buah di Indonesia. Pendeknya, dunia yang kita tinggali sekarang ini tidak lagi menghasilkan jejak-jejak keaslian, juga tanpa kekhasan ruang dan waktu. Benda-benda yang berasal dari tempat yang jauh, sekarang mengapung dengan bebasnya di dunia tanpa perbatasan. Inilah dunia yang penuh dengan tiru-meniru, dan gado-gado. Dunia telah menjadi kumpulan dari objek-objek yang terdislokasi dan terpisah dari asalnya. Objek-objek saling berinteraksi, saling meminjam karakter yang dimiliki benda-benda lain, dan akhirnya saling mereproduksi satu sama lain dengan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan yang tak terbatas.

Seluruh proses itulah yang sekarang dirayakan sebagai ‘Globalisasi’ : perbatasan yang terbuka, pertemuan berbagai bangsa dan orang, dan perangkulan multikulturalisme. Paling tidak itulah yang mereka katakan.

***

Distrik Gion di Kyoto, tempat hiburan tua yang bersejarah di Jepang, 2 minggu menjelang Miako-Odori, festival musim semi Gion yang terkenal. Berharap dapat melihat semakin meningkatnya aktifitas persiapan yang dilakukan untuk festival tersebut, aku berjalan menyusuri Hanamikoji-dori. Tapi tidak lama kemudian aku mendapati diriku duduk di sebuah bangku di outlet Starbucks untuk meminum segelas Macchiato dan menghisap sebatang rokok.

Aku memilih untuk duduk di bangku teras supaya bisa mendapatkan pemandangan perempatan Hanamikoji-dori. Di situ aku berharap bisa melihat para geiko (geisha) dan maiko berdatangan untuk memenuhi janji dengan para klien mereka di ochaya (rumah minum teh) – tapi tiba-tiba aku tersadar bahwa aku lebih tertarik melihat objek-objek yang tergeletak di atas mejaku. Segelas Macchiato dari Starbucks (khas Italia, dipatenkan di Seattle, dan dibuat dari biji kopi yang diambil Starbucks entah dari bagian dunia yang mana), rokok kretekku dari Indonesia (dijual di mesin-mesin penjual rokok di Jepang), dan sebuah asbak enamel (dengan tulisan di bagian belakangnya: Made in Thailand).

Saat itulah aku teringat kembali tentang ‘Heteropia’…

Bagaimanakah menghubungkan buruh miskin dari Thailand yang membuat asbak-asbak model ini dengan para perempuan cantik-mematikan-berkelas yang duduk di sampingku? – demikian pula, hubungan seperti apakah yang tercipta di antara petani kopi yang berasal dari Afrika dan Indonesia dengan manajemen Gen-X nya Starbucks di Seattle? Tentu espresso dan macchiato yang harum ini lebih biasa kita asosiasikan dengan gaya hidup jazzy ala New York daripada bila dihubungkan dengan negara-negara produsen kopi tadi. Dengan demikian, mejaku saat itu bisa dikatakan sebagai sebuah heteropia murni. Semua objek ini tiba di situ – tercerai dan terputus dari tempat asal mereka. Terdekontekstualisasi. Tercerabut dari akar-akarnya.

Tapi sebenarnya, heteropia –inipun tergantung apakah terminologi ini ada gunanya – sudah sama tuanya dengan usia keberadaan manusia. Sebuah penemuan arkeologis pada tahun 1965, misalnya, telah menemukan bahwa manik-manik yang dimiliki oleh beberapa kelompok suku di Kalimantan ternyata berasal dari Venesia, dan bahkan ada yang berasal dari Mesopotamia. Kemudian juga, pada masa-masa maraknya ‘perburuan kepala’ di Kalimantan di akhir abad ke 19, para pedagang di Singapura bertindak selaku grosir manik-manik untuk dijual ke pedalaman Kalimantan, bahkan mereka menerima pesanan untuk warna dan ukuran yang sesuai dengan apa yang diinginkan para ‘pemburu kepala’ tersebut. Ini hanya satu contoh saja.

Lihat juga Jepang, dan kita bahkan akan sulit sekali menemukan hal-hal yang memang ‘asli Jepang’. Tulisan kanji diimpor dari Cina, sebagaimana halnya agama Budha, Zen, gaya planologi kota berbentuk bujursangkar dan berbagai elemen kebudayaan lainnya yang biasanya diasosiasikan dengan kebudayaan tradisional Jepang. Di berbagai penjuru dunia, kita bisa menemukan teknologi kuno ataupun ide-ide kebudayaan yang terdistribusi demikian luasnya sehingga mungkin bisa disamakan dengan luasnya penyebaran gambar Britney Spears menjadi botak, film-film anime yang ‘sakit’, dan atau gambar-gambar kekerasan di Irak, yang terjadi saat ini.

Jadi, jika heteropia tidak baru lagi, bagaimana dengan Globalisasi?

Berabad-abad yang lalu, ide ditransmisikan melalui interaksi langsung antar manusia. Proses pengadaptasian ide-ide tersebut sangat mengandalkan pada kontak antar-pribadi dan pembelajaran antar-budaya.Coba bayangkan bagaimana caranya para pedagang dari Gujarat melakukan syiar Islam kepada populasi yang sebagian besar buta huruf dan berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda? – setidaknya, struktur ‘globalisasi’ yang terjadi pada masa lalu dibina di atas interaksi langsung manusia. Dengan bangkitnya teknologi, ditambah dengan sistem industrial yang semakin terdehumanisasi, proses-proses tersebut yang sebelumnya lambat, menjadi semakin cepat. Konsekuensinya adalah faktor manusia menjadi hilang dari proses globalisasi dan segala sesuatunya menjadi serba otomatis. Demikianlah, seorang pedagang tidak lagi harus mengembara setengah dunia jauhnya untuk meyakinkan orang-orang dari kebudayaan berbeda tentang betapa kerennya mereka seandainya mereka menghisap tembakau. Struktur dunia yang berlaku saat ini bersikap jauh lebih diskriminatif (misalnya, pekerja migrant diharapkan untuk tidak berbaur dengan penduduk asli negara tuan rumah), hirarkis, serta impersonal (para expat yang bekerja di negara dunia ketiga hanya bertugas untuk mengawasi mesin modal yang sedang bekerja)

Apakah ada orang di Gion hari ini, betapa pun seringnya imaji-imaji tentang kemiskinan ‘dunia ketiga disiarkan siaran berita di TV-TV kabel, yang peduli pada petani kopi ataupun buruh Thai yang dibayar murah? Apakah kita, manusia, justru sebenarnya telah ter-de-globalisasi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: