JENESYS: Pengentasan Kemiskinan (Minati Sinha)
November 26, 2009
Kemiskinan dan Berbagai Perwujudannya
Minati Sinha (India)
Peneliti, Indian Institute of Technology Delhi, India
Ms. Sinha mendapatkan gelar Sarjana ekonominya dari Universitas Guwahati, Assam pada tahun 1999, Master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Jawaharlal Nehru, Delhi, di tahun 2002, dan Master of Philosophy dalam bidang Psychiatric Social Work dari Central Institut of Psychiatry, Kanke, Ranchi, Jharkhand di tahun 2005. Dia juga memiliki lebih dari 5 tahun pengalaman professional dalam bidang pembangunan sosia. Saat ini ia adalah mahasiswa Ph.D di IIT Delhi, Departemen ilmu Sosial dan Humaniora, India.
JENESYS: Pengentasan Kemiskinan (Waleed Aly)
November 18, 2009
Laporan Individual
Waleed Aly (Australia)
Pengajar, Universitas Monash
diterjemahkan oleh Dipo Siahaan
Mr. Aly mendapat gelar sarjana di bidang Teknik Kimia dan Hukum dari Monash University. Setelah bekerja di Pengadilan Keluarga Australia dan kantor pengacara Maddocks, ia menjadi mahasiswa pascasarjana bidang Politik selain juga mengajar di almameternya. Penelitian dan pengajarannya terfokus pada terorisme dan kekerasan politik, dan kaitannya dengan isu keberagaman, kohesi sosial, dan multikulturalisme. Read the rest of this entry »
JENESYS: Pengentasan Kemiskinan (Laporan Penasihat Program)
November 18, 2009
Laporan Penasihat Program
Februari 2009
Aya K. Abe
National Insitute of Population and Social Security Research
diterjemahkan oleh Dipo Siahaan
1. Tujuan Program
Tujuan program ini adalah untuk memperkenalkan kepada para partisipan mengenai sejumlah program dan gerakan pengentasan kemiskinan dan inklusi sosial di berbagai negara Asia Timur. Juga sebagai ajang pertukaran ide untuk tercapainya inklusi sosial. Program ini mengumpulkan 20 orang partisipan dari Australia, Brunei, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Saya mendapat kesempatan untuk menjadi penasihat program ini. Bisa dikatakan bahwa negara-negara yang diwakili oleh masing-masing partisipan cukup bervariasi dalam hal status ekonomi, struktur sosial, rejim politik yang berkuasa, dan program perlindungan sosialnya. Jepang, bersama dengan Australia dan Selandia Baru, adalah negara-negara yang dikategorikan paling ‘maju’ di Asia Timur dilihat dari GDP per kapitanya dan telah mengembangkan sistem keamanan sosial yang cukup luas, termasuk sistem dana pensiun, asuransi kesehatan publik, sistem bantuan publik, dan berbagai jasa pelayanan sosial lainnya. Namun, Jepang juga perlu menimba pengalaman negara Asia lainnya, justru karena ia menikmati buah kemajuan ekonomi selama hampir setengah abad tanpa pernah merasa khawatir mengenai kemiskinan di dalam negeri. Bangsa Jepang bangga atas dirinya sendiri karena merasa telah mencapai keberhasilan ekonomi tanpa menciptakan jurang pendapatan yang terlalu lebar di dalam masyarakatnya. Hingga belum lama berlalu, istilah “Bangsa kelas-menengah” digunakan berulangkali untuk menggambarkan Jepang, oleh masyarakat umum, pembuat kebijakan, dan politisi. Namun, sejak 1990an, tampak semakin jelas bahwa persepsi “Jepang sebagai masyarakat yang setara” tidak lain merupakan sebuah mitos. Sebagaimana nanti akan dijelaskan di bagian berikut, tingkat ketidaksetaraan Jepang telah meningkat sejak 1970an dan rasio kemiskinannya sekarang berada di peringkat kedua di antara 19 negara anggota OECD (Meksiko dan Turki tidak dihitung), di bawah Amerika Serikat.
JENESYS: Pengentasan Kemiskinan (Pengantar)
November 18, 2009
Tulisan-tulisan yang saya sampaikan berikut adalah hasil terjemahan dari laporan individual peserta kegiatan JENESYS (Japan East Asia Network of Youths and Exchange Students) East Asia Future Leaders Programme yang diadakan oleh the Japan Foundation pada tahun lalu (2008). JENESYS adalah rangkaian program yang diadakan oleh The Japan Foundation untuk pemimpin-pemimpin muda di kawasan Asia Timur dan sekitarnya untuk datang mengunjungi Jepang dalam program kunjungan jangka pendek. Diharapkan kunjungan ini dapat meningkatkan pemahaman para pemimpin muda ini tentang isu yang mereka geluti melalui kegiatan bertukar pikiran dengan para pemimpin muda dari negara lain dan dari Jepang, menciptakan jaringan internasional di tingkat Asia timur dan sekitarnya, serta meningkatkan pengenalan mereka tentang Jepang dan masyarakat.
Ada banyak tema yang diusung dalam setiap program JENESYS, seperti lingkungan hidup, kemiskinan, pendidikan, dan berbagai hal lainnya.
Rangkaian tulisan yang saya sampaikan berikut adalah tulisan yang dihasilkan dari salah satu program JENESYS tersebut, yaitu JENESYS dengan tema Overcoming Poverty Through A Social Inclusion Approach (Pengentasan Kemiskinan dengan Pendekatan Inklusi Sosial). Program JENESYS ini diadakan dari tanggal 9 hingga 19 Desember 2008 dan mengundang aktivis-aktivis anti kemiskinan dari berbagai negara dan dari berbagai latar belakang sektor (jurnalistik, pemerintahan, dan sektor organisasi non-pemerintah) untuk berkunjung ke Jepang dan bertukar pikiran mengenai masalah kemiskinan di masing-masing negara. Ada 20 orang yang diundang dari 16 negara. Tiga negara mengirimkan dua orang wakil, yaitu Australia, Indonesia, dan Jepang. Dari Indonesia wakil yang dikirimkan adalah Arde Wisben dari Social Worker Practice Resource Center, dan bapak Ahmad Shobirin dari Departemen Sosial. Namun tulisan-tulisan yang saya sampaikan di bawah tidak akan mencakup tulisan dari mereka.
Setiap peserta diminta untuk menuliskan laporan akhir untuk the Japan Foundation dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku yang diterbitkan secara terbatas. Membaca tulisan-tulisan mereka saya merasa sayang kalau tulisan-tulisan tersebut tidak disebarluaskan sejauh-jauhnya, karena semuanya memiliki nilai tertentu yang mungkin bisa meningkatkan pemahaman seseorang tentang isu kemiskinan. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menerjemahkan sebagian tulisan yang ada di buku tersebut dan saya sebarkan melalui milis. Ini, tentu saja, saya lakukan dengan seijin para penulisnya.
Adapun tulisan yang saya terjemahkan adalah dari Dr. Aya Abe yang merupakan Penasihat Program ini untuk the Japan Foundation. Saya juga menerjemahkan tulisan dari Kensuke Matsueda, peserta program dari Jepang, karena tulisannya bersifat sebagai pengantar untuk mengenali isu kemiskinan yang ada di Jepang. Tulisan lain adalah dari Waleed Aly, peserta dari Australia, karena ia membandingkan antara kemiskinan yang terjadi di Jepang dan di Australia dalam konteks keduanya sebagai negara maju. Kedua tulisan tersebut (dari Matsueda dan dari Aly) menurut saya cukup penting bagi kita untuk bisa melihat bahwa perbedaan karakter kemiskinan yang terjadi di negara maju seperti Australia dan Jepang dengan kemiskinan yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia dan India. Saya sendiri memilih untuk tidak menerjemahkan tulisan dari Indonesia karena tulisan keduanya bersifat pengantar terhadap masalah kemiskinan di Indonesia dan memang ditujukan bagi para peserta dari negara lain yang notabene memang tidak tahu tentang masalah kemiskinan di Indonesia. Bagi orang Indonesia sendiri, berbagai penjelasan yang ada di dalam tulisan dari bapak Shobirin dan Wisben mungkin sudah diketahui. Namun, sebagai wakil dari negara berkembang saya memilih tulisan dari Minanti Shiha, peserta dari India, yang menjelaskan tentang karakter kemiskinan di India, yang punya sejumlah kemiripan sekaligus perbedaan dengan kemiskinan di Indonesia, dengan demikian mungkin memberikan sedikit informasi baru bagi pembaca Indonesia.
Semoga bisa berguna bagi anda