J Horor dan Kajian Tentang Jepang

July 8, 2008

Oleh: Dipo D. Siahaan

Reiko Asakawa: Jadi video itu…
Ryuji Takayama: Itu tidak berasal dari dunia ini. Video itu dari kemarahan Sadako. Dan dia telah mengutuk kita melalui video itu.
(dari “Ringu”, 1998 )

Pendahuluan

Tahun lalu, seorang profesor dan kritikus film dari Jepang, Yomota Inuhiko datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian tentang film horor Indonesia, dengan bantuan beasiswa API (Asia-Pacific Intellectuals) dari Nippon Foundation. Sementara dia di Indonesia, the Japan Foundation, Jakarta, meminta beliau untuk memberikan kuliah umum tentang film di sejumlah institusi. Beliau akhirnya memberikan ceramah di Cinematek (Yayasan Film Indonesia), Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dan Jurusan Film Institut Kesenian Jakarta (i) . Saya mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam ketiga ceramah beliau tersebut.

Satu ceramah yang saya rasakan sangat menarik adalah ceramah yang beliau berikan di Cinematek karena beliau mengangkat topik tentang penelitiannya sendiri, yaitu film horor. Di awal ceramahnya beliau mengatakan (ini tentu saja melalui penerjemah), “film horor sangatlah menarik karena film itu sebenarnya merepresentasikan sisi gelap suatu masyarakat; menceritakan tentang hal-hal yang kita – sebagai sebuah komunitas – takuti bersama, meski dalam simbol-simbol yang perlu diterjemahkan. Film horor mewakili ketakutan kolektif kita”. Istilah ‘ketakutan kolektif’ langsung menggugah rasa ingin tahu saya. Saya baru menyadari bahwa ketakutan tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Ada ketakutan yang memiliki akar kultural. Ada hal-hal yang kita takuti karena orang lain menakutinya juga. Kebanyakan orang Barat, misalnya, mungkin tidak merasa takut pada pocong kita, dan mungkin juga tidak pernah bisa benar-benar paham rasa takut kita terhadap Sundel Bolong. Ketakutan terhadap pocong ataupun sundel bolong adalah ketakutan yang diwarisi dan ditularkan. Ketakutan yang bersifat kultural.

Tentang ketakutan kultural yang memiliki sifat kontekstual ini ditegaskan oleh Yomota dalam ceramahnya dengan menunjukkan sebuah klip film horor Jepang. Klip film yang dia tunjukkan diambil dari film tahun 50an berjudul “Yotsuya Kaidan”. Film ini menunjukkan adegan dimana sang tokoh hantu wanita mencoba membalas dendam atas kematiannya dengan cara menjebak sang pembunuhnya ke sebuah sungai. Para pemerannya menggunakan make-up ala artis kabuki, dengan sang hantu perempuan mengenakan bedak putih yang sangat tebal di mukanya. Yomota mengatakan begini, “saya pikir kebanyakan dari anda tidak akan merasa takut apabila melihat film ini. Film ini dapat dinikmati oleh masyarakat tertentu dengan kolektif tertentu pada periode tertentu. Film ini sangat sukses pada masyarakat Jepang di dekade 50an.”

Setelah klip film itu, Yomota menunjukkan klip film lain lagi. Kali ini adalah klip dari film “Ringu” (The Ring), diambil dari adegan ketika dua tokoh protagonis dalam film tersebut menemukan rumah tempat mayat Sadako (tokoh antagonis dalam kisah ini) disembunyikan. Namun mayat tersebut terdapat di dalam sumur yang disembunyikan di balik dinding rumah, sehingga mereka berdua harus menjebol dinding itu agar bisa mengambil mayat itu untuk kemudian menyucikannya. Film ini cukup populer di Indonesia, sehingga kebanyakan peserta ceramah langsung mengenali film itu begitu Yomota menunjukkannya kepada kami. Dia kemudian mengatakan pada kami,”Adegan ini mungkin sudah anda kenali, karena film ini sangat populer, bahkan hingga mendorong Hollywood untuk membuatnya ulang. Dari film ini kita bisa melihat bahwa ‘ketakutan kolektif’ yang tadinya terbatas pada satu masyarakat tertentu telah meluas hingga ke tingkat global. Film ini dapat menimbulkan tingkat ketakutan yang sama bagi orang Amerika seperti halnya bagi orang Jepang, ataupun juga bagi orang Indonesia.”

Sebenarnya tanpa kuliah tersebut pun, saya telah beberapa kali menikmati film horror Jepang. Saya sudah pernah menonton film-film horror seperti Ringu, Ju-On, Kairo, Gakko no Kaidan, dan berbagai judul lainnya. Namun, ceramah Yomota membuat saya mulai mengamati film-film tersebut dengan kerangka berpikir yang berbeda dengan yang saya gunakan selama ini. Hasil pengamatan itulah yang kemudian menghasilkan tulisan pendek ini.

Alasan dan Tujuan Tulisan Ini

Tulisan ini bermaksud untuk memberikan sedikit gambaran tentang karakteristik film horror Jepang dengan mengambil tiga contoh film horor yang sangat popular di Jepang pada saat dikeluarkan. Tiga film yang akan saya kedepankan dan (coba) analisa di sini adalah: Ringu, Kairo, dan Honogurai Mizu no Soko Kara. Ketiga film tersebut juga di-remake oleh Hollywood dan menjadi bagian dari demam J-horor yang melanda Hollywood antara 3-5 tahun yang lalu. Melalui pemaparan karakteristik ketiga film tersebut, saya berharap bisa menunjukkan sebagian dari ketakutan kultural (ii) masyarakat Jepang.

Saya juga berharap bahwa dengan mengamati ketakutan kultural tersebut lebih lanjut, saya bisa memahami makna dari sejumlah fenomena kontemporer yang melanda masyarakat Jepang. Fenomena kontemporer ini, saya percaya, ditangkap dan direkam dengan baik dalam film horor Jepang dalam serangkaian simbol yang dapat dibongkar dan dibaca ulang maknanya dengan pisau analisa tertentu. Namun, tujuan terakhir ini sebenarnya adalah tujuan ideal yang tidak mungkin bisa dicapai dan diselesaikan dalam satu tulisan pendek seperti ini. Oleh karena itu, artikel ini akan lebih terpusat pada tujuan awal saja, yaitu memberikan deskripsi. Namun, bila memungkinkan, tulisan ini juga akan mencoba menyinggung sebagian kecil dari tujuan kedua.

Sejumlah Referensi

Segera setelah kuliah umum tersebut saya mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit berbagai bahan menarik yang membahas tentang film horror. Karena keterbatasan waktu, dana dan ketersediaan bahan, maka bahan yang saya kumpulkan pun kebanyakan bersumber dari internet. Oleh karena itu, mungkin akan ada pertanyaan soal kredibilitas sumber yang saya gunakan. Namun, dengan sangat menyesal saya perlu katakan bahwa inilah cara terbaik pengumpulan referensi yang bisa saya lakukan karena alasan yang telah saya sebutkan di atas.

Dari pengumpulan bahan tersebut, saya menemukan bahwa kajian tentang film horror sebenarnya telah dilakukan secara meluas. Secara spesifik juga, ketertarikan atas kajian tentang film horror Jepang juga tampaknya cukup meluas, terutama pada saat demam J-Horor melanda Hollywood sekitar 3-4 tahun yang lalu.

Dari internet saya menemukan sejumlah referensi yang cukup menarik.

Salah satu referensi pertama yang patut disebut di sini adalah sebuah buku karangan Noel Carrol berjudul: The Philosophy of Horror Or Paradoxes of Heart (Libri, New York: 1990) (lihat: http://www.amazon.com/Philosophy-Horror-Paradoxes-Heart/dp/0415902169; sneak-peek dapat dilakukan di: http://www.amazon.com/Philosophy-Horror-Paradoxes-Heart/dp/0415902169).

Ini buku yang sangat menarik karena mungkin ini adalah buku pertama yang mencoba meletakkan dasar filosofis untuk kisah-kisah horror yang telah menghantui berbagai masyarakat di berbagai tempat di dunia selama berabad-abad. Buku ini mengisahkan latar belakang kelahiran fiksi horror (atau art-horror/seni-horor dalam istilah sang penulis) serta definisi teknis tentang seni-horor yang sangat berguna. Saya rekomendasikan untuk pertama-tama membaca buku ini bagi mereka yang tertarik untuk mengkaji tentang film horror secara serius.

Selain itu, saya juga menemukan sejumlah referensi yang membahas tentang film horror Jepang, seperti tulisan Prof. Tim Screech di: http://www.mangajin.com/mangajin/samplemj/ghosts/ghosts.htm, berjudul the Japanese Ghost. Artikel ini mengidentifikasikan berbagai hantu yang ada dalam kisah-kisah rakyat. Sangat berguna untuk memahami latar belakang mistik-spiritual-religius yang menjadi lahan inspirasi film horror Jepang.

Artikel yang juga penting untuk disebutkan di sini adalah yang terdapat di: http://www.dreamdawn.com/sh/features/japanese_horror.php, berjudul: Chris’ Guide To Understanding Horror. Identitas penulisnya kabur, namun saya rasa isi tulisannya sangat patut untuk dibaca lebih lanjut. Lagipula, karena tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah tulisan akademis yang kuat, maka saya juga memasukkan artikel tersebut dalam referensi saya.

Ada satu poin penting dalam artikel terakhir yang sangat menarik perhatian saya, yaitu bahwa dalam sistem kepercayaan Shinto, arwah orang yang sudah mati (reikon) dapat terjebak dan tidak bisa meninggalkan dunia ini apabila tidak mendapatkan pemakaman yang pantas atau karena emosi berlebihan yang mereka miliki pada saat mereka meninggal. Poin ini mengingatkan saya pada sebuah cerita dalam buku Lafcadio Hearn, Kwaidan: The Stories and Studies of Strange Things, tentang seorang penjahat yang akan dihukum pancung (iii) dalam cerita yang berjudul “Diplomacy”. Cerita ini menggambarkan tentang kepercayaan masyarakat Jepang atas kemungkinan seseorang menjadi hantu penasaran apabila memiliki ‘emosi berlebih’ itu . Selain itu tentang ‘emosi berlebih’ (iv) ini akan berkali-kali muncul dalam berbagai film horror Jepang, seperti Ju-On dan Ringu.

Demikianlah referensi yang saya pikir penting untuk dikedepankan karena sejumlah alasan. Mengenai referensi lain dapat dilihat di bagian akhir tulisan ini.

J-Horror Sebagai Istilah Problematik Dengan Kegunaan Tertentu

J-Horror adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sejumlah film bergenre horor yang berasal dari Jepang. Istilah ini digunakan terutama untuk film-film Horor Jepang yang diproduksi dari mulai keluarnya film horor “Ringu” (1998). Bahkan boleh dikatakan Ringu itu adalah film pertama yang menyandang predikat “J-Horor”.

Istilah ini adalah istilah yang problematik, karena sebenarnya tidak mungkin menyatukan seluruh film horor yang pernah diproduksi di Jepang dalam satu kelompok. Film horor yang pernah diproduksi di Jepang memiliki ragam dan variasi yang luar biasa besar sehingga sulit sekali menemukan kesamaan di antara semua film tersebut. Istilah ini sebenarnya diciptakan oleh Hollywood di antara 2004/2005, untuk merujuk pada sejumlah film horor asal Jepang yang di-remake oleh Hollywood dan mendapat sukses komersial yang besar. Film-film tersebut antara lain Ringu (1998, di-remake oleh Hollywood menjadi ‘The Ring‘/2002), Kairo (2001, di-remake oleh Hollywood menjadi ‘Pulse‘/2006), Honogurai Mizu no Soko Kara (2002, di-remake oleh Hollywood dengan judul ‘Dark Water‘/2005), dan Ju-On (2003, di-remake oleh Hollywood menjadi ‘The Grudge‘/2004). Dalam perjalan waktu, istilah J-Horor ini pun digunakan untuk merujuk semua film horor yang berasal dari Jepang.

Ada alasan lain yang membuat penggunaan istilah ini problematik.

Sesaat sebelum remake film-film horor Jepang tersebut dimulai, industri film horor Hollywood saat itu sedang mengalami kelesuan. Namun, industri itu bangkit lagi berkat kesuksesan komersil film-film tersebut. Inilah yang kemudian membuat para pengamat film menggunakan istilah J-Horor, dalam rangka mengkontraskan film-film horor tersebut dengan film horor konvensional produksi Hollywood. Dengan demikian istilah J-Horor dihasilkan lebih dengan tujuan untuk membandingkan antara film-film horor Jepang yang masuk ke Hollywood (dengan demikian film horor Jepang yang tidak masuk/dimasukkan ke Hollywood, sebenarnya pada awalnya tidak bisa masuk dalam kategori J-horror ini) dengan film-film horor Amerika konvensional, daripada untuk menggambarkan sejumlah persamaan ciri tertentu yang bisa ditemukan di antara film-film horor Jepang. Artikel di: http://wwww.dreamdawn.com/sh/features/japanese_horror.php ini misalnya, sangat menunjukkan betapa istilah J-Horror adalah istilah yang dibuat dengan tujuan untuk perbandingan daripada untuk pengkategorian sesuatu.

Walaupun problematik, istilah ini menurut saya tetap perlu digunakan, terutama untuk merujuk pada sekumpulan film horror Jepang yang dikeluarkan paska Ringu (1998). Saya bukan ahli film, namun saya berpendapat bahwa diadaptasinya Ringu oleh Hollywood menandakan satu era baru dalam perfilman horor Jepang. Sejak pengadaptasian tersebut, film horror Jepang menjadi punya satu ‘label’ tertentu. Tidak hanya label sebenarnya. Bersama dengan label itu, melekat pula serangkaian karakteristik tertentu. Memang benar bahwa baik label maupun karakteristik tersebut disematkan oleh pihak luar, bukan pelaku film Jepang sendiri. Namun, tampaknya penyematan label dan karakteristik tersebut ‘diamini’ oleh para pelaku film horror Jepang. Tampaknya juga ada upaya sadar dan sengaja dari para pembuat film horror Jepang untuk mengikuti jejak Ringu, dengan menggunakan teknik sinematografi yang sama, menggunakan latar yang sama dan mengangkat topik yang kurang lebih sama (v).

Sebelum membahas lebih lanjut tentang benang merah yang menghubungkan berbagai film J-horor, berikut saya sampaikan sinopsis dari ketiga film yang disebut sebagai J-horor.

***spoilers alert***
***Di bawah ini adalah bocoran kisah film-film’Ringu’, ‘Kairo’, dan ‘Honogurai Mizu no Soko Kara’. Sangat tidak direkomendasikan bagi mereka yang bermaksud menonton film-film tersebut nantinya***

J-HOROR: SEJUMLAH CONTOH

The Ring
Contoh pertama yang bisa diketengahkan di sini adalah tentunya film yang mengawali ‘demam J-Horor’ di Hollywood, yaitu Ringu. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Suzuki Koji berjudul ‘The Ring’. Ada sejumlah perbedaan antara film dan novelnya, namun basis cerita keduanya tetap sama.

Ringu diawali dengan kematian aneh dua orang siswi sekolah menengah Tokyo, setelah menonton sebuah kaset video. Salah seorang korban yang meninggal, Tomoko, memiliki seorang bibi yang bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi Tokyo. Kematian Tomoko membuat sang bibi, Reiko Asakawa, merasa penasaran. Dia pun mencoba mencari tahu tentang penyebab kematian Tomoko.

Dalam penyelidikannya, Reiko menemukan sebuah legenda urban yang mengatakan tentang sebuah video terkutuk yang dapat membunuh orang 7 hari setelah menonton video tersebut. Reiko menemukan video yang telah ditonton oleh Tomoko dan kemudian menontonnya. Dia tidak bisa memahami adegan yang ia lihat di dalam video tersebut, namun entah kenapa dia merasa adegan-adegan tersebut sangat mengganggu dan menggelisahkan. Ia semakin gelisah ketika teleponnya tiba-tiba berbunyi tepat setelah ia selesai menonton film tersebut. Ketika ia angkat tidak ada orang yang menjawab. Reiko, walaupun masih bersikap setengah skeptis, merasa khawatir bahwa jangan-jangan legenda urban itu memang benar adanya. Merasa takut dan gelisah, Reiko kemudian meminta bantuan mantan suaminya, Ryuji Takayama. Mereka harus menemukan penyebab kutukan video tersebut dan menetralisirnya dalam waktu 7 hari untuk menyelamatkan Reiko. Semuanya menjadi semakin rumit ketika Reiko menyadari bahwa anaknya, Yoichi, ternyata juga telah menonton video tersebut.

Berdua mereka berhasil menelusuri asal-usul video tersebut ke pulau Oshima. Di sana mereka mendapatkan informasi tambahan bahwa beberapa tahun sebelumnya seorang paranormal lokal, Shizuko, melakukan bunuh diri. Anak Shizuko yang bernama Sadako dilarikan oleh sang ayah dan disembunyikan di sebuah rumah. Sang ayah yang rupanya merasa ketakutan akan kekuatan Sadako, kemudian membunuhnya dan menyembunyikan mayatnya di sebuah sumur yang disembunyikan dalam rumah tersebut. Video tersebut adalah manifestasi dari kemarahan Sadako.

Reiko dan Ryuji kemudian menemukan mayat Sadako, mengangkatnya dan kemudian memberikan penguburan yang layak. Lega karena merasa telah berhasil menghentikan kutukan video tersebut, mereka kembali ke Tokyo.

Namun, sehari setelah kembali ke Tokyo, Ryuji mati karena kutukan Sadako, tepat 7 hari setelah ia pertama kali menonton kaset video tersebut. Reiko yang mendapatkan kabar tersebut menyadari bahwa kutukan Sadako belum habis sama sekali. Namun, ia merasa heran mengapa ia tidak mati karena waktu 7 harinya sebenarnya sudah habis. Akhirnya, dia pun menyadari bahwa ia tidak mati karena ia telah memberikan video itu kepada Ryuji untuk ditonton, sehingga dengan demikian ia telah mengalihkan kutukan tersebut kepada Ryuji. Kutukan tersebut dialihkan apabila kita membuat orang lain menonton video tersebut. Akhirnya, untuk menyelamatkan nyawa anaknya yang juga telah menonton video tersebut, Reiko membawa kaset video tersebut ke rumah orang tuanya untuk mereka tonton.

Kairo

Cerita Kairo diawali dengan dua cerita terpisah yang berjalan paralel dari Michi Kudo dan Kawashima Ryosuke. Di akhir film, kedua tokoh ini akhirnya akan bertemu.

Rekan kerja Michi, Taguchi, telah lama tidak masuk kantor. Michi pergi berkunjung ke apartemennya untuk mencari tahu alasannya, sekaligus juga untuk meminta sebuah floppy disk yang sedang dikerjakan oleh Taguchi. Dia masih sempat berbincang dengan Taguchi dan bahkan menanyakan tentang floppy disk yang berisikan pekerjaan yang selama ini dilakukan Taguchi. Michi mencoba mencari sedikir disket yang dimaksud di meja kerja Taguchi, namun saat menemukan disket tersebut, ia mendengar suara gaduh. Pada saat ia bergegas ke tempat sumber suara, Michi menemukan mayat Taguchi tergantung di seutas tali menghadap dinding. Taguchi telah melakukan bunuh diri. Namun, saat Michi masih merasa kaget atas kejadian tersebut, tiba-tiba tubuh Taguchi perlahan-lahan memudar, menyisakan hanya sebuah noda hitam seukuran tubuhnya di dinding kamarnya, seakan-akan seperti bayangan Taguchi.

Michi kemudian menceritakan kejadian ini kepada rekan-rekan kerjanya, Yabe Toshio dan Junko Sasano. Mereka merasa shock mendengarnya. Ketika Yabe mencoba melihat isi disket yang dibawa oleh Michi, tiba-tiba komputernya tersambung ke sebuah website aneh. Website ini memperlihatkan gambar meja Taguchi, dan juga Taguchi yang ada di samping mejanya, tubuhnya agak tersembunyi dalam bayang-bayang. Pemandangan tersebut menakutkan mereka semua. Yabe kemudian memutuskan untuk menyelidiki kematian Taguchi.

Kisah kemudian berpindah terfokus kepada Kawashima, seorang mahasiswa berusia 21 tahun. Kawashima tidak menguasai komputer dan bermaksud untuk mempelajarinya. Dia hidup sendirian di sebuah apartemen kecil. Suatu ketika pada saat dia sedang mencoba menghubungkan koomputernya ke internet, tiba-tiba komputernya terhubung ke website yang sama yang dilihat oleh Michi dan kawan-kawan. Namun, pemandangan yang ia lihat berbeda. Saat ia merasa bingung karena kejadian itu, tiba-tiba muncul sebuah pesan di layar komputernya yang bertanya “maukah kau bertemu setan?” Ketakutan, Kawashima segera mematikan komputernya dan beranjak tidur. Tapi di tengah malam, komputer Kawashima tiba-tiba menyala dan tersambung pada website itu kembali. Kawashima terbangun dan melihatnya. Kawashima membanting komputernya itu.

Di kampusnya, Kawashima bertemu dengan Harue yang banyak tahu tentang komputer dan teknologi informasi. Kawashima menanyakan kejadian yang dialaminya kepada Harue, yang kemudian membantunya menelusuri website tersebut karena khawatir bahwa komputer Kawashima telah disusupi oleh Hacker.

Yabe yang bermaksud menyelidiki kematian Taguchi, mendatangi apartemen rekan kerjanya tersebut. Ia mencoba menyelidiki kamar tempat Taguchi bunuh diri. Saat tiba di sana ia merasa samara-samar melihat Taguchi. Namun, saat ia mencoba melihat dengan lebih jelas, ternyata yang ia lihat sebenarnya adalah noda hitam di dinding. Noda hitam itu terpampang di dinding yang dihadap oleh Taguchi pada saat ia bunuh diri. Ukuran dan bentuknya begitu persisnya sehingga noda itu seakan-akan seperti bayangan Taguchi yang jatuh ke dinding pada saat tubuhnya tergantung di situ. Di lantai bawah apartemen Taguchi, Yabe melihat sebuah kamar misterius yang sisi-sisi pintunya disegel dengan selotip merah. Merasa penasaran, Yabe memasuki kamar misterius tersebut. Sejak itu Yabe tidak pernah terlihat lagi.

Michi sendiri berkali-kali menghadapi kejadian yang aneh. Suatu ketika ia melihat pemandangan aneh. Seorang wanita tua yang tinggal di sebuah rumah yang biasa ia lewati di depan sebuah pabrik tua yang tidak digunakan lagi, sedang menyegel sebuah ruangan di pabrik tersebut dengan menggunakan selotip merah. Keesokan harinya, wanita tua itu bunuh diri dengan meloncat dari atas atap pabrik tersebut. Selain itu, teman-teman kerjanya satu persatu menghilang. Setelah Yabe menghilang, bosnya mulai bertingkah aneh dan kemudian menghilang juga. Setelah itu Junko juga menghilang.

Kawashima yang sedang mencoba menyelidiki tentang website aneh tersebut bersama Harue bertemu dengan seorang mahasiswa senior bernama Yoshizaki. Dari keterangan Yoshizaki mereka mengetahui bahwa situs web misterius itu sebenarnya berasal dari dunia kematian. Dunia kematian saat ini telah terlalu ramai dan padat, sehingga para penghuninya bermaksud melakukan invasi ke dunia kehidupan. Mereka memanfaatkan sarana internet yang telah digunakan secara meluas oleh semua orang. Melalui internet mereka menjebak manusia untuk masuk ke dalam dunia kematian bertukar tempat dengan mereka. Invasi dunia kematian tersebut seperti virus, menular. Saat itu invasi tersebut sangat meluas, dan sudah tidak bisa dihentikan.

Di akhir cerita, Kawashima pun kehilangan Harue. Ia dan Michi bertemu dan mereka bermaksud melarikan diri. Ternyata invasi dunia kematian telah mencapai taraf global. Mereka menemukan beberapa orang selamat lain yang sedang mencoba untuk melarikan diri ke laut lepas dengan sebuah kapal laut. Tapi ternyata Kawashima pun juga telah terinfeksi. Sesaat sebelum mereka berangkat pergi, tubuh Kawashima memudar, menyisakan noda hitam di lantai tempat ia terbaring.

Honogurai Mizu no Soko Kara

Film ini menceritakan tentang Yoshimi Matsubara, seorang ibu muda yang sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, Kunio Hamada. Mereka saat ini sedang memperebutkan hak asuh atas anak mereka satu-satunya, Ikuko. Umumnya, para ibulah yang bisa mendapatkan hak asuh atas anak. Namun, dalam pengadilan terungkap bahwa Yoshimi pernah dirawat karena penyakit mental. Selain itu, saat itu Yoshimi belum memiliki pekerjaan tetap.

Jadi, Yoshimi perlu membuktikan kepada pengadilan bahwa dirinya mampu dan cukup kuat secara emosional untuk merawat anaknya. Ia kemudian menemukan sebuah apartemen murah dengan harga terjangkau. Yoshimi dan Ikuko kemudian pindah ke apartemen itu untuk memulai kehidupan baru, dengan Yoshimi mulai mencari pekerjaan yang lebih stabil dan bisa menopang kehidupan mereka berdua.

Apartemen baru mereka tersebut adalah apartemen yang sudah tua. Penghuninya sedikit, sehingga banyak kamar-kamar kosong di dalamnya. Namun, apartemen tersebut sangat murah dan lokasinya dekat dengan sekolah Taman Kanak-kanak Ikuko. Oleh sebab itu Yoshimi tetap memilih untuk tinggal di apartemen tersebut.

Namun, sejak hari pertama mereka mendatangi kamar apartemen mereka tersebut ada banyak kejadian aneh yang terjadi. Saat mereka datang pertama kali untuk memeriksa kamar mereka, Ikuko bermain sendirian hingga ke atas atap gedung. Yoshimi ketakutan dan mengejar Ikuko ke sana. Ikuko tidak apa-apa. Ia sedang memegang sebuah tas anak-anak kecil berwarna merah yang isinya adalah mainan anak-anak. Yoshimi kemudian membuang tas merah tersebut. Namun anehnya, tas merah itu berkali-kali muncul kembali walaupun Yoshimi terus berusaha membuangnya.

Selain itu, noda air di langit-langit apartemen mereka semakin lama semakin membesar, bahkan hingga akhirnya meneteskan air. Padahal kamar di atas mereka kosong. Yoshimi memberitahukan hal ini kepada pengurus gedung tapi tidak digubris. Ikuko juga semakin lama bertingkah semakin aneh. Ia sering berbicara sendiri. Ia juga sering berjalan-jalan sendiri, dan kemudian tersesat hingga harus dicari oleh Yoshimi. Bahkan, suatu ketika Ikuko jatuh pingsan di kelasnya.

Semua kejadian ini menambah tekanan terhadap Yoshimi, dan menyulitkan ia dalam proses peradilan hak asuh atas Ikuko melawan mantan suaminya. Namun, ia mencoba bertahan sebisanya.

Tapi kejadian demi kejadian aneh di apartemen tersebut semakin menekan ia. Suatu ketika, ia melihat poster di TK Ikuko yang memberitahukan soal anak kecil yang hilang dua tahun lalu bernama Mitsuko. Sampai sekarang Mitsuko belum ditemukan, dan banyak orang menduga bahwa ia telah mati dibunuh. Dahulu, Mitsuko dan keluarganya tinggal di apartemen yang sama dengan Yoshimi, tepat di atas ruang apartemen mereka. Yoshimi curiga bahwa segala kejadian aneh yang ia alami di apartemennya, serta tingkah laku Ikuko yang juga aneh, memiliki kaitan dengan Mitsuko. Pandangannya bertambah kuat saat ia suatu ketika melihat seorang anak berbaju kuning berkeliaran di sekitar apartemennya. Ia semakin bertambah tertekan saat Ikuko hilang dan ditemukan kembali di kamar apartemen di atas, di dalam bak mandi yang diisi air. Setengah sadar dan hampir mati tenggelam.

Yoshimi tambah tertekan. Dalam suatu siding pengadilan, ketahanan mentalnya akhirnya jatuh dan ia menjadi histeris. Setelah sidang itu, ia berbicara dengan pengacaranya bermaksud untuk pindah apartemen. Namun pengacaranya mengatakan bahwa apabila Yoshimi pindah, maka kesan yang didapat oleh hakim adalah bahwa kehidupannya masih belum stabil sehingga ia tidak cocok merawat Ikuko. Oleh karena itu, pengacaranya menyarankan agar Yoshimi tidak pindah apartemen.

Di akhir cerita, Yoshimi berhadapan dengan hantu Mitsuko. Ternyata Mitsuko merasa ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia sangat marah, kesepian, dan merasa cemburu pada Ikuko yang disayang oleh ibunya. Ia menginginkan agar Yoshimi menjadi ibunya dan bermaksud untuk menyingkirkan Ikuko. Untuk melindungi Ikuko, Yoshimi akhirnya mengorbankan nyawanya dan tinggal di apartemen tersebut bersama Mitsuko sebagai hantu juga.

***end of spoilers***
***akhir bocoran***

BENANG MERAH

Perkotaan dan Legenda Urban

Kisah-kisah yang diangkat dalam J-horor mengambil latar belakang kehidupan perkotaan. Latar ini terus berulang dalam berbagai film J-Horor seperti The Ring, Ju-On, hingga Kairo.

Secara tradisional, baik di kebudayaan Barat maupun Jepang, hantu/monster dalam kisah-kisah misteri lama umumnya berasal dari/berada di tempat-tempat perbatasan. Perbatasan apa? Perbatasan antara dunia manusia dengan dunia non-manusia. Dalam kisah-kisah hantu tradisional, perbatasan itu terletak di daerah-daerah pedesaan atau non urban. Kisah-kisah hantu tradisional Jepang umumnya mengambil latar belakang rural/non-urban semacam ini (vi). Hantu/monster adalah sesuatu yang berasal dari luar dunia manusia.

Hantu/monster dalam kisah-kisah tradisional dengan demikian melambangkan segala sesuatu yang menjadi antitesis/musuh peradaban. Ini dibuktikan dari asal-usul mereka dari dunia non-peradaban manusia, dari perbatasan. Daerah pedesaan melambangkan peralihan dari dunia manusia/peradaban (wilayah urban/kota) dengan alam liar yang non-manusia. Konflik antara manusia dengan monster/hantu, dengan demikian, sebenarnya melambangkan pertarungan antara peradaban manusia dengan alam. (perlu tambahan referensi)

Kisah-kisah J-horor yang tidak lagi menggunakan latar non-urban sebagai tempat asal-usul monster/hantu menunjukkan bahwa saat ini telah terjadi perubahan persepsi dalam masyarakat Jepang. Monster/hantu sekarang tidak lagi muncul daerah-daerah non-urban, namun seolah-olah muncul begitu saja di antara mereka yang tinggal di kawasan urban.

Perlu dicatat bahwa ini tidak berarti bahwa hantu tidak lagi datang dari perbatasan antara dunia manusia dengan dunia non-manusia. Justru sebaliknya. Ketiga film yang telah dijelaskan di atas justru malah menegaskan bahwa hantu-hantu tersebut datang dari/ada di dalam dunia perbatasan antara manusia dan non-manusia. Namun, perbatasan antara manusia dan non-manusia tersebut tidak lagi dijelaskan dengan logika spasial-geografis (dunia non-manusia terletak di daerah yang jauh dari pusat peradaban manusia alias daerah urban). Dunia non-manusia sebenarnya berjalan pararel dengan dunia manusia. Hal yang membantu terjadinya perpindahan dari dunia non-manusia ke dunia manusia adalah perangkat teknologi. Kutukan Sadako, misalnya, bersemayam dalam tubuh non-manusia yaitu sebuah kaset video. Hantu-hantu dalam kairo juga berpindah tempat dari dunia kematian ke dunia manusia dengan menggunakan sarana internet.

Tentang teknologi akan dijelaskan lebih lanjut di bagian bawah.

Secara umum bisa dikatakan bahwa J-horor memandang kehidupan urban dengan pandangan yang muram dan pesimis. Pandangan muram ini terlihat dari kemunculan monster/hantu di setting urban, dimana perbatasan antara dunia non-manusia dengan dunia manusia menjadi kabur dan tidak jelas.

Karena latar belakang perkotaan yang sangat kuat, maka elemen-elemen ‘urban legend’ khas Jepang sangat mempengaruhi kisah-kisah dalam J-Horror. Kisah tentang video yang dikutuk dalam The Ring, misalnya, adalah sebuah legenda urban yang sudah beredar di kalangan siswa di sejumlah SMU di Jepang, sebelum akhirnya diangkat menjadi sebuah kisah novel oleh Suzuki Koji, dan kemudian diadaptasi menjadi film (lihat wawancara dengan Sutradara The Ring, Hideo Nakata, di http://www.horschamp.qc.ca/new_offscreen/nakata.html). Legenda urban jugalah yang menginspirasikan Honogurai dan Kairo. Dalam Kairo, legenda urbanlah yang membantu menyebarkan rumor tentang keberadaan ‘website setan’ ke seluruh dunia.

‘Kesepian’ Dalam J-Horor

Kesepian dan kemuraman adalah nuansa umum yang ditampilkan dalam J-horor. Ini menarik, karena sekilas tampak kontras dengan latar belakang kehidupan perkotaan yang ditampilkan dalam film-film tersebut.

Terkait dengan penjelasan sebelumnya, kesepian dalam film-film J-horor adalah kesepian yang bersifat urban. Meminjam istilah Ali Topan yang mungkin terdengar klise sekarang: kesepian dalam J-horor adalah kesepian yang terjadi di tengah keramaian. Ryuji Takayama dalam Ringu, misalnya, adalah tokoh yang dijauhi oleh teman-temannya karena kekuatan psikis yang dimilikinya. Bahkan dia mungkin berpisah dengan Reiko karena kekuatannya tersebut itu.

Honogurai juga bercerita tentang kesepian urban. Yoshimi dalam kisah tersebut tidak memiliki siapa pun yang bisa membantunya. Gedung apartemennya sepi, sehingga ia tidak memiliki tetangga. Pengawas gedung apartemen yang ia tinggali pun tidak pernah mempedulikan permintaannya (seperti permintaan Yoshimi untuk mengecek saluran air di kamar di atas apartemennya). Mantan suaminya meneror dia terus menerus, berupaya membuktikan bahwa Yoshimi tidak pantas untuk merawat anak mereka. Pengacaranya memang berusaha membantunya, tapi hanya sebatas hubungan professional saja. Ketika beranjak ke hal-hal yang bersifat pribadi, sang pengacara tidak memiliki empati terhadap Yoshimi. Dialah yang meminta agar Yoshimi tidak pindah dari gedung apartemen tersebut, agar mereka tidak kalah dalam pertarungan perebutan hak asuh (dengan demikian semakin menegaskan elemen professional sang pengacara). Seluruh cinta kasih yang dimiliki Yoshimi ditujukan hanya ke satu orang saja, yaitu Ikuko, anaknya. Rasa putus asa dan ketertekanannya semakin bertambah ketika ia menyadari bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa melindungi Ikuko, kecuali dirinya. Ia bertarung sendirian melawan hantu Mitsuko. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak mungkin menang, ia akhirnya mengorbankan nyawanya agar Mitsuko tidak mengambil nyawa Ikuko.

Topik kesepian urban juga berulang di kairo. Namun, kesepian dalam kairo dibawa oleh sang sutradara selangkah lebih jauh daripada kesepian yang dialami oleh Yoshimi di Honogurai. Kesepian dalam kairo lebih bersifat massal dan meluas. Perasaan inilah yang membuat invasi para setan ke dunia manusia menjadi lebih mungkin dilakukan.

J-Horror: Kombinasi Modern dan Tradisional

J-horor secara unik menggabungkan kepercayaan tradisional Jepang dengan kemajuan teknologi terkini. Lihat misalnya kisah The Ring. Imaji tentang Sadako, tokoh antagonis dalam film tersebut, yang digambarkan dalam film berupa seorang gadis bergaun putih dengan rambut panjang yang menutupi muka sebenarnya adalah imaji tradisional Jepang tentang Yuurei (hantu perempuan tradisional Jepang). Namun, Sadako yang merupakan hantu tradisional Jepang ini digambarkan keluar dari tabung televisi untuk mendapatkan korbannya, dan kutukan dia sampai kepada manusia melalui medium kaset video. Gabungan antara hal-hal tradisional dengan modern seperti inilah yang membuat film-film J-horor dapat diterima secara luas di seluruh dunia.

Perlu diperhatikan juga bahwa pandangan tradisional Jepang tentang roh dapat terlihat dengan jelas di film-film J-Horor. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, masyarakat Jepang percaya bahwa roh yang terjebak di dunia kehidupan dan menjadi hantu, adalah roh yang memiliki emosi berlebih. ‘Emosi berlebih’ adalah kata kunci untuk memahami keberadaan Sadako di Ringu ataupun Mitsuko di Honogurai. Bahkan invasi para hantu dalam Kairo juga bisa dilihat dalam perspektif ‘emosi berlebih’ ini. Para hantu tersebut merasa gelisah karena dunia mereka sudah terlalu padat, sehingga mereka memutuskan untuk menyerang dan menduduki dunia manusia.

Sejumlah penonton film dari Barat kadang-kadang mengeluh bahwa hantu-hantu dalam film horror Jepang seringkali tidak memiliki latar belakang yang jelas. Namun, kritik ini sebenarnya muncul akibat perbedaan opini budaya antara Jepang dengan Barat. Masyarakat Barat berpendapat bahwa suatu roh terjebak dalam dunia hidup dan mati adalah karena adanya tugas/urusan yang belum selesai. Oleh sebab itu, dalam upaya ‘penyucian’ hantu itu agar meneruskan perjalanannya, perlu diketahui tugas apa yang perlu diselesaikan oleh hantu tersebut. Akibatnya, film-film horror/misteri Barat perlu menampilkan latar belakang keberadaan hantu tersebut, sekaligus sebagai upaya untuk menjelaskan kemungkinan resolusi yang bisa diambil oleh para pelaku dalam mengalahkan hantu/monster tersebut. Ini kontras dengan pandangan Jepang yang menganggap bahwa hantu muncul karena adanya emosi berlebih dari roh manusia pada saat menjelang kematiannya. Akibatnya, hantu dalam film-film horror Jepang tidak perlu memiliki latar belakang yang jelas. Hanya cukup disampaikan kepada penonton tentang kondisi jiwa yang mungkin muncul menjelang kematiannya.

Pandangan tradisional tentang hantu ini menemukan gaung barunya dalam masyarakat modern. Kebanyakan film-film horror Jepang menggabungkan antara kepercayaan tradisional tersebut dengan kemajuan teknologi Jepang. Kepercayaan tradisional dengan kemajuan teknologi seperti menemukan sintesis yang baru: tidak bertentangan, malah berjalan sejajar.

Kemodernan mungkin bisa juga dihubungkan dengan penjelasan di bagian sebelumnya tentang kesepian dalam J-horor. Dalam J-horor, tampaknya kemodernan adalah sumber dari kesepian, yang kemudian memungkinkan hantu/monster untuk masuk dalam (menginvasi?) kehidupan manusia. Poin ini ditekankan dengan sangat jelas dalam film Kairo. Invasi para hantu ke dunia manusia dimungkinkan terjadi secara total dan menyeluruh karena teknologi internet telah demikian meresap dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang yang selamat (termasuk Michi dan, untuk beberapa saat menjelang akhir film, Kawashima) adalah mereka yang tidak menggantungkan kehidupan mereka pada internet. Hanya merekalah yang tidak terkena infeksi dari para hantu yang mencoba menginvasi.

Melihat deskripsi tersebut, pandangan umum tentang teknologi yang muncul dalam J-horor umumnya adalah pandangan yang negatif, pesimis dan sinis. Teknologi dalam J-horor bukanlah penyelamat dan pembantu manusia, tapi merupakan awal dari kejatuhan manusia. Tema ini juga dimunculkan dalam Ringu, dimana sebuah kaset video (notabene merupakan alat kemajuan teknologi) dimanfaatkan oleh Sadako sebagai sebuah alat untuk menularkan kutukan dan kemarahannya kepada semakin banyak orang.

J-Horor: Monster dan Kengerian

Salah satu ciri khas dari semua film horor adalah keberadaan monster. Noel Carrol mengatakan bahwa monster memiliki peranan yang demikian penting dalam film horor sehingga bisa dikatakan bahwa monster adalah yang menandakan sebuah film sebagai sebuah film horor.

Monster dalam film horor muncul dalam berbagai rupa. Kadang-kadang monster itu adalah mahluk supranatural seperti Dracula, zombie atau pocong, dan sebagainya. Bisa juga manusia yang telah dipengaruhi oleh kekuatan setan. Demikian pula dalam J-horor, monster-monsternya muncul dalam berbagai variasi rupa. Namun, cara penggambaran monster dalam J-horor cukup unik dan perlu dianggap sebagai salah satu ciri khas dari J-horor.

Hollywood seringkali mengidentikkan monster dengan penampilan yang mengerikan, menakutkan dan, seringkali, menjijikkan. Hal ini mereka lakukan dengan memadukan bentuk-bentuk monster tersebut (yang aneh dan tidak biasa) dengan hal-hal seperti darah, air liur, lendir, serangga, kelelawar, dan lain-lain. Monster dimunculkan dalam rangka membangun rasa takut dan ngeri para penonton.

Ini kontras dengan monster dalam J-horor yang tampil relatif bersih. Jarang ada film J-horor yang menampilkan adegan-adegan yang berdarah-darah, sadis, atau menjijikkan. Peran monster dalam J-horor sebenarnya sama dengan peran monster dalam film horor Holywood, yaitu untuk menakut-nakuti para penonton. Namun monster dalam J-horor menakut-nakuti penonton dengan cara yang berbeda. Dalam J-horor, kengerian justru dibangun dengan menunda kemunculan monster.

Tiga film yang menjadi contoh saya di atas menunjukkan hal ini. Baik Ringu, Kairo, maupun Honogurai menunda penampilan monster mereka. Monster-monster dalam film tersebut baru muncul setelah melewati pertengahan film. Kengerian dengan demikian muncul bukan dari kemunculan monster tersebut namun dari ketegangan mengantisipasi kedatangan monster. Ketika monster tersebut akhirnya datang juga, mereka tidak lagi berfungsi sebagai pembangun kengerian, melainkan untuk mengkonfirmasi kengerian tersebut: membenarkan bahwa terror telah tiba di hati para penonton. Ini, menurut saya, adalah teknik penyajian horor yang paling menarik dan paling khas dari J-horor. Dan mungkin ini jugalah yang membuat J-horor (sempat) menarik perhatian para produser film Hollywood.

Penutup: J-Horor Sebagai Jendela Memahami Jepang

Tulisan ini bukanlah tulisan yang memiliki nilai ilmiah yang kuat. Bahkan boleh dikatakan bahwa tulisan ini hanya berpretensi untuk menjadi tulisan ilmiah: sebuah tulisan pseudo-ilmiah. Mengapa? Karena tulisan ini sangat kurang data, sangat kurang bahan, dan sangat kurang kerangka teori untuk membingkai seluruh isinya.

Namun, seperti saya tuliskan di atas, tulisan ini memang tidak bermaksud untuk menjadi tulisan akademis. Ia hanya ditujukan untuk memberikan penggambaran tentang karakteristik film horor Jepang dan melalui penggambaran diharapkan tulisan ini dapat memberikan gambaran juga tentang situasi masyarakat kontemporer Jepang. Bahwa tujuan terakhir itu tercapai atau tidak, itu ada dalam penilaian anda semua.

Salah satu tujuan lain dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan peluang kajian Jepang, secara spesifik di bidang kajian film. Di Indonesia kajian tentang Jepang masih lambat menjelajahi aspek-aspek ke-Jepang-an yang bersifat populer seperti film, manga, dan lain-lain. Beberapa institusi studi Jepang, seperti PSJ UI, telah mencoba melakukan penelitian di bidang-bidang budaya populer semacam ini. Tapi institusi lain masih agak terlambat. Penelitian S1 program studi Jepang juga, tampaknya masih banyak berkisar di seputar pengkajian sastra. Penelitian tentang film adalah satu peluang yang perlu dipikirkan lebih lanjut secara serius sebagai bagian dari kajian Jepang.

Selain itu, tujuan yang agak kurang serius, tulisan ini juga bermaksud para pembacanya untuk melihat film horor dengan cara serius. Paling tidak sedikit lebih serius daripada biasanya. Saya harap saya berhasil untuk tujuan yang terakhir ini.

Demikianlah tulisan saya. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf. Dan semoga tulisan ini menarik dan bermanfaat bagi anda semua.

catatan belakang:
(i) Satu ceramah lain yang berjudul “what is kawaii?” diberikan di Fakultas Film IKJ. Ceramah tersebut adalah satu-satunya ceramah beliau di Indonesia yang menggunakan makalah. Tulisan beliau telah saya terjemahkan dan dapat diakses di:http://jepangindonesia.wordpress.com/2007/09/25/apakah-kawaii/#more-7
(ii) Ketakutan kultural masih memerlukan dasar teori yang lebih kuat. Namun untuk makalah ini ketakutan kultural adalah ketakutan atas suatu hal yang memiliki latar belakang kultural. Penjelasan singkat tentang hal ini sudah dijelaskan di bagian sebelumnya.
(iii) Anda dapat mengunduh e-booknya di: http://www.gutenberg.org/etext/1210;
(iv) Sekilas konsep ini agak mirip dengan konsep ‘tugas yang belum selesai’ di kepercayaan masyarakat Barat yang menyebabkan hantu terjebak di dunia manusia dan tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke dunia selanjutnya. Namun, konsep hantu di Jepang tidak terpusat pada ‘tugas’ melainkan pada ‘emosi’ yang negatif (kemarahan, kesedihan, kebencian, dan lain-lain). Karena itu penyucian hantu di Jepang tidak ditujukan untuk membantu hantu tersebut menyelesaikan ‘tugas’nya, melainkan untuk meredakan ‘emosi’ hantu tersebut, atau untuk menenangkannya.
(v) Pada akhirnya, ‘upaya untuk menyamakan’ ini membuat film horror Jepang menjadi sangat monoton dan minim variasi. Akibatnya belakangan popularitas J-horor semakin merosot di Hollywood.
(vi) Untuk kisah-kisah hantu tradisional silahkan lihat: http://www.gutenberg.org/etext/1210

2 Responses to “J Horor dan Kajian Tentang Jepang”

  1. SicSid said

    Tulisan yang sangat menarik sekali. Saya seorang penggemar film horror. Tidak berat sich, tapi saya juga sering melihat sebuah film horror sebagai sebuah seni yang menggabungkan psikologi dan latar belakang kultural yang menarik. Nice.

  2. jepangindonesia said

    Makasih. Kapan-kapan coba datang ke Japan Foundation Jakarta saja, kalau mereka seadng membuat pekan film horor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: