Diterjemahkan dari: The End Of Alliance “Bussiness as Usual”? Ozawa’s Rejection of Japan’s India Ocean Deployment.
Url: http://japanfocus.org/products/details/2497

 

Tulisan ini diterjemahkan dengan seijin penulisnya: Prof. Richard Tanter.

Akhir Persekutuan Jepang-Amerika? Penolakan Ozawa atas Kebijakan Pengiriman Pasukan Jepang ke Samudra Hindia

Richard Tanter
(diterjemahkan oleh Dipo Siahaan)

Read the rest of this entry »

Berikut adalah artikel tentang Otaku yang ditulis oleh Volker Grassmuck, Alone but not lonely. Artikel ini diterjemahkan oleh tiga orang, yaitu saya sendiri, ibu Raphaella Dewantari, dan mbak Hanna Sibarani. Sebagai editor untuk hasil penerjemahan adalah mbak Shobichatul Aminah, dan bapak Mohammad Hassan. Proses penerjemahan dilakukan atas seijin sang penulis yang bersangkutan. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada orang-orang yang telah ikut serta dalam proyek sukarela ini.

Karena artikel ini cukup panjang (total hasil terjemahan adalah 30 halaman A4, dengan format standar), maka saya akan mengirimkannya secara bertahap. Saya akan mengirimkannya dalam tiga bagian selama tiga hari. Alasannya ada dua: pertama, dalam rangka mengurangi beban email ; dan kedua, sebagai upaya untuk menjaga agar pembaca tidak merasa bosan dan lelah karena tulisan yang terlalu panjang.

Artikel asli berbahasa Inggris dapat ditemukan di:
http://waste.informatik.hu-berlin.de/Grassmuck/Texts/otaku.e.html

Untuk penyebaran artikel, mohon perhatikan klausul yang tertulis di OpenContent Licence (OpenContent License adalah salah satu proyek dari gerakan OpenContent. Informasi lebih jelas tentang gerakan ini dapat dilihat sejumlah situs sebagai berikut: http://en.wikipedia.org/wiki/Open_content atau http://www.OpenContent.org dan sejumlah situs lain yang bisa anda cari sendiri). Klausul OpenContent Licence terdapat di bagian akhir setiap bagian tulisan yang saya kirimkan (sengaja saya biarkan dalam bahasa aslinya, untuk menghindari kesalahpahaman). Inti dari OpenContent adalah bahwa anda diperbolehkan untuk menyebarkan tulisan ini, asalkan tidak merubah bentuk aslinya. Apabila anda melakukan perubahan, maka anda diminta untuk menghubungi penulis yang bersangkutan. Syarat ini juga berlaku bagi hasil terjemahan di bawah. Apabila anda bermaksud mengadakan perubahan terhadap hasil penerjemahan mohon beritahukan pada saya.

Sebagai pengantar:

Tulisan Grassmuck ini dibuat pada tahun 1990. Dilihat dari tahun penulisan, maka sebenarnya tulisan ini bisa dikatakan ketinggalan jaman. Bahkan sebenarnya, fenomena otaku itu sendiri pun sudah tidak marak lagi di Jepang.

Namun demikian, tulisan ini tetap berguna bagi sejumlah orang yang tertarik pada Jepang, terutama dalam rangka mengamati fenomena-fenomena yang saat ini terjadi di Jepang.

Pada beberapa tahun terakhir, Jepang dilanda oleh fenomena yang disebut dengan Hikkkomori (sebutan bagi individu yang menarik diri dalam pergaulan dengan orang lain). Perkiraan jumlah pengidap hikikomori hanya beberapa puluh ribu orang saja. Tapi patut diperhatikan bahwa para pengidap hikikomori semuanya berada di kelompok umur 18-30 tahun, atau bisa dikatakan kelompok generasi muda. Bagi Jepang yang saat ini sedang mengalami masalah serius dalam hal populasi yang terus menyusut, masalah seperti hikikomori yang melanda generasi mudanya tentu adalah suatu masalah yang sangat serius.

Kalau diperhatikan, banyak karakteristik para pengidap hikikomori yang mirip sekali dengan para otaku. Kedua-duanya, hikikomori dan otaku, adalah sama-sama pemuja dunia informasi dan teknologi. Kedua-duanya memiliki kecenderungan untuk tidak bersosialisasi dengan siapa pun (walaupun hikikomori berada pada tingkatan yang relatif lebih gawat). Terakhir, kedua-duanya adalah Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang sebisa mungkin hidup sendirian tapi tidak merasakan kesepian. Kata-kata yang digunakan oleh Grassmuck untuk menggambarkan kaum Otaku (isolasi diri, kegandrungan pada dunia maya, dan lain-lain), entah kenapa, juga berulangkali muncul dalam berbagai penggambaran tentang hikikomori. Tentu saja ada banyak perbedaan di antara keduanya. Namun, persamaan yang muncul antara hikikomori dan otaku menunjukkan bahwa tampaknya kedua fenomena tersebut memiliki sejumlah hubungan tertentu yang perlu diketahui lebih lanjut.

Hubungan antara kedua fenomena itu tidak begitu jelas. Tapi bisa jadi, satu-satunya hubungan yang muncul adalah bahwa kedua istilah tersebut dimunculkan oleh kaum professional (psikolog, wartawan, pendidik dan lain-lain), karena mereka:

merasa kecewa karena anak-anak mereka tampaknya tidak ingin meneruskan mengejar mimpi yang dulu pernah mereka kejar. Mereka kecewa karena anak-anak muda ini tampaknya tidak peduli lagi pada kelanjutan ‘proyek modernisasi’. Mereka ingin memahami anak-anak mereka, tapi anak-anak mereka sendiri menolak untuk mengekspresikan diri mereka di hadapan orang tuanya.

Dengan demikian, baik istilah hikikomori maupun otaku (bisa jadi) adalah istilah yang sarat dengan penghakiman: benar-salah, baik-buruk, hitam-putih. Bisa jadi, selama fenomena ini terus dihakimi seperti itu, fenomena yang mirip dengan hikikomori dan otaku akan muncul berulang-ulang, hanya saja dengan nama yang berbeda-beda. Grassmuck sudah dengan baik menunjukan hal ini dengan dalam artikelnya. Dia menjelaskan tentang berbagai istilah yang telah ‘dimunculkan dengan sengaja’ untuk menggambarkan para ‘generasi muda yang menyimpang’. Mulai dari istilah moratorium ningen, hingga istilah otaku itu sendiri. Pada kenyataannya, fenomena ‘hidup kosong dan sepi’ yang dialami oleh sejumlah generasi muda Jepang (patut dicatat bahwa ini tidak dialami oleh semua generasi muda Jepang), tidak menghilang bersamaan dengan memudarnya suatu penggunaan istilah tertentu. Fenomena itu hanya berubah bentuk dan, juga, berubah nama.

Dari sisi Indonesia, kajian tentang fenomena yang banyak melanda generasi muda Jepang perlu dikembangkan lebih lanjut. Apa yang dialami oleh masyarakat Jepang sekarang, bisa jadi akan dialami oleh masyarakat Indonesia di masa mendatang. Dengan demikian, mengkaji fenomena sosial-budaya terkini di Jepang adalah seperti mengantisipasi fenomena mendatang di Indonesia. Mengantisipasi dan, kalau bisa, menghindarinya.

Dengan konteks seperti itu, maka kajian tentang otaku adalah juga bagian dari kajian terkini tentang Jepang. Bahkan walaupun artikel ini dituliskan lebih dari 16 tahun yang lalu. Sebagai sebuah kajian, tulisan Grassmuck cukup penting karena dia menggambarkan kondisi sosial yang melatar belakangi kemunculan otaku, dan yang berlaku pada saat otaku sedang marak.

Artikel ini diterjemahkan agar semakin banyak orang bisa mengakses dan membacanya. Semoga dengan cara ini kami bisa memberikan sedikit sumbangan bagi masyarakat kami.

Ini adalah proyek penerjemahan secara sukarela dari para anggota mailing list J-I_link@yahoogroups. Kami dengan senang hati menerima setiap kritikan dan sumbang saran terhadap hasil penerjemahan kami. Berikut adalah artikel hasil terjemahan kami…

“Sendiri, Tapi Tak Kesepian”

[hak cipta oleh Volker Grassmuck, 1990. Diterjemahkan dan diterbitkan secara elektronik dalam milis ini dengan memperhatikan klausul dalam OpenContent License (OPL). Klausul lengkap dapat dilihat di bagian terakhir]

Volker Grassmuck
(Dec. 1990)

 

Diterjemahkan oleh:
Dipo D. Siahaan
Raphaella Dewantari
Hanna Sibarani

 

Uji Baca dan Pengeditan:
Shobichatul Aminah
Mohammad Hassan

Read the rest of this entry »