Kemiskinan dan Berbagai Perwujudannya

Minati Sinha (India)

Peneliti, Indian Institute of Technology Delhi, India

Ms. Sinha mendapatkan gelar Sarjana ekonominya dari Universitas Guwahati, Assam pada tahun 1999, Master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Jawaharlal Nehru, Delhi, di tahun 2002, dan Master of Philosophy dalam bidang Psychiatric Social Work dari Central Institut of Psychiatry, Kanke, Ranchi, Jharkhand di tahun 2005. Dia juga memiliki lebih dari 5 tahun pengalaman professional dalam bidang pembangunan sosia. Saat ini ia adalah mahasiswa Ph.D di IIT Delhi, Departemen ilmu Sosial dan Humaniora, India.

Read the rest of this entry »

Laporan Individual
Waleed Aly (Australia)
Pengajar, Universitas Monash

diterjemahkan oleh Dipo Siahaan

Mr. Aly mendapat gelar sarjana di bidang Teknik Kimia dan Hukum dari Monash University. Setelah bekerja di Pengadilan Keluarga Australia dan kantor pengacara Maddocks, ia menjadi mahasiswa pascasarjana bidang Politik selain juga mengajar di almameternya. Penelitian dan pengajarannya terfokus pada terorisme dan kekerasan politik, dan kaitannya dengan isu keberagaman, kohesi sosial, dan multikulturalisme. Read the rest of this entry »

Laporan Penasihat Program
Februari 2009
Aya K. Abe
National Insitute of Population and Social Security Research

diterjemahkan oleh Dipo Siahaan


1. Tujuan Program

Tujuan program ini adalah untuk memperkenalkan kepada para partisipan mengenai sejumlah program dan gerakan pengentasan kemiskinan dan inklusi sosial di berbagai negara Asia Timur. Juga sebagai ajang pertukaran ide untuk tercapainya inklusi sosial. Program ini mengumpulkan 20 orang partisipan dari Australia, Brunei, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Saya mendapat kesempatan untuk menjadi penasihat program ini. Bisa dikatakan bahwa negara-negara yang diwakili oleh masing-masing partisipan cukup bervariasi dalam hal status ekonomi, struktur sosial, rejim politik yang berkuasa, dan program perlindungan sosialnya. Jepang, bersama dengan Australia dan Selandia Baru, adalah negara-negara yang dikategorikan paling ‘maju’ di Asia Timur dilihat dari GDP per kapitanya dan telah mengembangkan sistem keamanan sosial yang cukup luas, termasuk sistem dana pensiun, asuransi kesehatan publik, sistem bantuan publik, dan berbagai jasa pelayanan sosial lainnya. Namun, Jepang juga perlu menimba pengalaman negara Asia lainnya, justru karena ia menikmati  buah kemajuan ekonomi selama hampir setengah abad tanpa pernah merasa khawatir mengenai kemiskinan di dalam negeri. Bangsa Jepang bangga atas dirinya sendiri karena merasa telah mencapai keberhasilan ekonomi tanpa menciptakan jurang pendapatan yang terlalu lebar di dalam masyarakatnya. Hingga belum lama berlalu, istilah “Bangsa kelas-menengah” digunakan berulangkali untuk menggambarkan Jepang, oleh masyarakat umum, pembuat kebijakan, dan politisi. Namun, sejak 1990an, tampak semakin jelas bahwa persepsi “Jepang sebagai masyarakat yang setara” tidak lain merupakan sebuah mitos. Sebagaimana nanti akan dijelaskan di bagian berikut, tingkat ketidaksetaraan Jepang telah meningkat sejak  1970an dan rasio kemiskinannya sekarang berada di peringkat kedua di antara 19 negara anggota OECD (Meksiko dan Turki tidak dihitung), di bawah Amerika Serikat.

Read the rest of this entry »

Tulisan-tulisan yang saya sampaikan berikut adalah hasil terjemahan dari laporan individual peserta kegiatan JENESYS (Japan East Asia Network of Youths and Exchange Students) East Asia Future Leaders Programme yang diadakan oleh the Japan Foundation pada tahun lalu (2008). JENESYS adalah rangkaian program yang diadakan oleh The Japan Foundation untuk pemimpin-pemimpin muda di kawasan Asia Timur dan sekitarnya untuk datang mengunjungi Jepang dalam program kunjungan jangka pendek. Diharapkan kunjungan ini dapat meningkatkan pemahaman para pemimpin muda ini tentang isu yang mereka geluti melalui kegiatan bertukar pikiran dengan para pemimpin muda dari negara lain dan dari Jepang, menciptakan jaringan internasional di tingkat Asia timur dan sekitarnya, serta meningkatkan pengenalan mereka tentang Jepang dan masyarakat.

Ada banyak tema yang diusung dalam setiap program JENESYS, seperti lingkungan hidup, kemiskinan, pendidikan, dan berbagai hal lainnya.

Rangkaian tulisan yang saya sampaikan berikut adalah tulisan yang dihasilkan dari salah satu program JENESYS tersebut, yaitu JENESYS dengan tema Overcoming Poverty Through A Social Inclusion Approach (Pengentasan Kemiskinan dengan Pendekatan Inklusi Sosial). Program JENESYS ini diadakan dari tanggal 9 hingga 19 Desember 2008 dan mengundang aktivis-aktivis anti kemiskinan dari berbagai negara dan dari berbagai latar belakang sektor (jurnalistik, pemerintahan, dan sektor organisasi non-pemerintah) untuk berkunjung ke Jepang dan bertukar pikiran mengenai masalah kemiskinan di masing-masing negara. Ada 20 orang yang diundang dari 16 negara. Tiga negara mengirimkan dua orang wakil, yaitu Australia, Indonesia, dan Jepang. Dari Indonesia wakil yang dikirimkan adalah Arde Wisben dari Social Worker Practice Resource Center, dan bapak Ahmad Shobirin dari Departemen Sosial. Namun tulisan-tulisan yang saya sampaikan di bawah tidak akan mencakup tulisan dari mereka.

Setiap peserta diminta untuk menuliskan laporan akhir untuk the Japan Foundation dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku yang diterbitkan secara terbatas. Membaca tulisan-tulisan mereka saya merasa sayang kalau tulisan-tulisan tersebut tidak disebarluaskan sejauh-jauhnya, karena semuanya memiliki nilai tertentu yang mungkin bisa meningkatkan pemahaman seseorang tentang isu kemiskinan. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menerjemahkan sebagian tulisan yang ada di buku tersebut dan saya sebarkan melalui milis. Ini, tentu saja, saya lakukan dengan seijin para penulisnya.

Adapun tulisan yang saya terjemahkan adalah dari Dr. Aya Abe yang merupakan Penasihat Program ini untuk the Japan Foundation. Saya juga menerjemahkan tulisan dari Kensuke Matsueda, peserta program dari Jepang, karena tulisannya bersifat sebagai pengantar untuk mengenali isu kemiskinan yang ada di Jepang. Tulisan lain adalah dari Waleed Aly, peserta dari Australia, karena ia membandingkan antara kemiskinan yang terjadi di Jepang dan di Australia dalam konteks keduanya sebagai negara maju. Kedua tulisan tersebut (dari Matsueda dan dari Aly) menurut saya cukup penting bagi kita untuk bisa melihat bahwa perbedaan karakter kemiskinan yang terjadi di negara maju seperti Australia dan Jepang dengan kemiskinan yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia dan India. Saya sendiri memilih untuk tidak menerjemahkan tulisan dari Indonesia karena tulisan keduanya bersifat pengantar terhadap masalah kemiskinan di Indonesia dan memang ditujukan bagi para peserta dari negara lain yang notabene memang tidak tahu tentang masalah kemiskinan di Indonesia. Bagi orang Indonesia sendiri, berbagai penjelasan yang ada di dalam tulisan dari bapak Shobirin dan Wisben mungkin sudah diketahui. Namun, sebagai wakil dari negara berkembang saya memilih tulisan dari Minanti Shiha, peserta dari India, yang menjelaskan tentang karakter kemiskinan di India, yang punya sejumlah kemiripan sekaligus perbedaan dengan kemiskinan di Indonesia, dengan demikian mungkin memberikan sedikit informasi baru bagi pembaca Indonesia.

Semoga bisa berguna bagi anda

oleh: Dipo Siahaan*

Noriko dan Dilemanya

noriko calderon-1Noriko Calderon menghadapi pilihan yang sulit. Ia harus memilih antara meninggalkan orang tuanya atau meninggalkan negeri yang dianggapnya sebagai kampung halamannya. Bukan masalah yang mudah untuk dihadapi oleh seorang anak perempuan yang baru berusia tiga belas tahun.

Masalah Noriko dimulai pada tahun 2006, ketika petugas imigrasi Jepang datang ke rumahnya dan menangkap ibunya Sarah Calderon karena telah memasuki Jepang secara ilegal. Tidak lama kemudian ayahnya, Arlan Cruz Calderon, ditangkap juga oleh petugas imigrasi. Mereka ditahan dan kemudian diperintahkan untuk meninggalkan Jepang kembali ke negeri asal mereka, Filipina. Noriko? Ia tidak ditangkap. Pemerintah Jepang membolehkan Noriko untuk tinggal sementara di Jepang sampai status resminya ditentukan: apakah ia dapat dianggap sebagai warga negara Jepang atau tidak.

Noriko sendiri tidak pernah tahu status ilegal kedua orang tuanya. Arlan dan Sarah Calderon tiba di dekade 90an di Jepang sebagai imigran Filipina, sebelum Noriko dilahirkan. Sarah tiba duluan pada tahun 1992, sedangkan Arlan menyusul setahun kemudian. Noriko sendiri dilahirkan pada tahun 1995 di Jepang. Nama ‘Noriko’ dipilih untuk menunjukkan bahwa ia lahir di Jepang. Tapi Arlan dan Sarah tetap memberikan nama ‘Calderon’ untuk anak perempuan mereka tersebut sebagai nama keluarga.

Read the rest of this entry »

Oleh:
Dewi Ariantini Yudhasari

Segala sesuatu yang kompleks termasuk di dalamnya adalah pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai masyarakat disebut sebagai budaya.(1) Ketika kita ingin berbicara tentang hal itu sebenarnya kita telah masuk dalam wilayah pembahasan culture studies. Culture Studies adalah suatu kajian tentang praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan dalam segala fenomena masyarakat seperti yang nampak pada budaya pop, media, sub-culture, gaya hidup, konsumerisme, identitas dan sebagainya.(2)

Read the rest of this entry »

Oleh: Dipo D. Siahaan

Reiko Asakawa: Jadi video itu…
Ryuji Takayama: Itu tidak berasal dari dunia ini. Video itu dari kemarahan Sadako. Dan dia telah mengutuk kita melalui video itu.
(dari “Ringu”, 1998 )

Pendahuluan

Tahun lalu, seorang profesor dan kritikus film dari Jepang, Yomota Inuhiko datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian tentang film horor Indonesia, dengan bantuan beasiswa API (Asia-Pacific Intellectuals) dari Nippon Foundation. Sementara dia di Indonesia, the Japan Foundation, Jakarta, meminta beliau untuk memberikan kuliah umum tentang film di sejumlah institusi. Beliau akhirnya memberikan ceramah di Cinematek (Yayasan Film Indonesia), Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dan Jurusan Film Institut Kesenian Jakarta (i) . Saya mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam ketiga ceramah beliau tersebut.
Read the rest of this entry »

Milton Diamond
University of Hawai’i – Manoa
John A. Burns School of Medicine
Department of Anatomy and Reproductive Biology
Pacific Center for Sex and Society
Honolulu, Hawai’i 96822, U.S.A.

Ayako Uchiyama
National Research Institute of Police Science
Juvenile Crime Study Section 6, Sanban-cho, Chiyoda-ku
Tokyo 102, JAPAN

diterjemahkan oleh: Dipo Siahaan
http://www.hawaii.edu/PCSS/online_artcls/pornography/prngrphy_rape_jp.html (english Version)

Pertanyaan tentang apakah pornografi terkait dengan tindak pemerkosaan atau kejahatan seksual lainnya telah diajukan oleh berbagai masyarakat berbeda dalam berbagai kurun waktu. Di Amerika Serikat, ada hasil kajian yang dilakukan oleh sebuah komisi yang dibentuk oleh Presiden Lyndon B. Jhonson (Komisi Pornografi, 1970). Hasil kajian komisi ini menyatakan bahwa bahwa tidak terlihat adanya kaitan yang jelas antara pornografi dengan tindak pemerkosaan ataupun kejahatan seksual lainnya yang dilakukan oleh anak muda ataupun orang dewasa. Mengikuti jejak dari komisi 1970 tersebut, pada tahun 1986 komisi kejaksaan agung Amerika Serikat mengeluarkan laporan mereka tentang pornografi (Meese, 1986). Dibentuk pada tahun 1984 oleh perintah dari Presiden Reagan, komisi ini menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan komisi 1970. Komisi ini menyimpulkan bahwa ‘keterpaparan terhadap materi-materi pornografi secara substansial… memiliki hubungan sebab-akibat dengan tindakan-tindakan kekerasan seksual yang bersifat anti-sosial’. Namun, berbeda dengan komisi kepresidenan sebelumnya, komisi kejaksaan agung ini dibentuk untuk tujuan politik, bukan ilmiah. Anggota komisi ini umumnya bukanlah ilmuwan, tidak melakukan penelitian sendiri dan tidak menugaskan pihak lain untuk melakukannya. Komisi tersebut hanya mengumpulkan kesaksian dari pihak-pihak yang pandangannya mereka duga memang sejalan dengan pandangan mereka sendiri, serta tidak mewawancarai pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda dengan mereka (Lynn, 1986, Nobile & Nadler, 1986; Lab, 1987) . Laporan minoritas (Minority Report) (i) komisi Messe ini – yang ditulis oleh dua dari tiga orang perempuan di dalam keanggotaan panelnya, satu orang di antaranya memiliki pengalaman luas dalam penelitian tentang perilaku seksual – tidak bersetuju dengan laporan mayoritas yang dikeluarkan komisi tersebut. Laporan minoritas ini mengatakan bahwa laporan komisi Messe tidak sesuai dengan data ilmu pengetahuan sosial yang terkumpul (Messe, 1986). Kajian-kajian skala nasional tentang topik sama yang dilakukan di kemudian hari juga tidak dapat menemukan bukti yang kuat tentang kaitan antara tingkat pemerkosaan nasional dengan ketersediaan materi pornografi dalam bentuk majalah (Baron and Strauss, 1987) atau dengan keberadaan bioskop untuk dewasa dalam satu komunitas tertentu (Scott and Schwalm, 1988; Winick & Evans, 1996).

Di Inggris, sebuah komite yang dibentuk secara swasta (Amis, Anderson, Beasley-Murray, et al., 1972), mencoba mengkaji situasi pornografi domestik di Inggris dan menyimpulkan bahwa materi-materi semacam itu memiliki dampak buruk terhadap moral publik. Komisi ini juga mengabaikan bukti-bukti ilmiah denga tujuan memberikan perlindungan terhadap ‘barang-barang publik’ (public goods) dari hal-hal yang dapat ‘merusak dan mendegradasikan moral’ manusia. Namun, sebuah Komite Resmi (Morisson) yang dibentuk oleh Kerajaan Inggris, pada tahun 1979 menganalisa situasi yang terjadi dan melaporkan (Home Office, 1979) bahwa: Dari apa yang kami ketahui tentang perilaku sosial dan telah kami pelajari dari penelusuran kami, kami percaya bahwa peranan dan pengaruh pornografi cenderung kecil dalam mempengaruhi masyarakat kita. Kesimpulan selain ini… terlalu membesar-besarkan masalah pornografi (hal. 95). Ulasan McKay dan Dolff (1984) untuk Departemen Kehakiman Kanada, mengemukakan hal yang pada intinya sama, yaitu bahwa: “Tidak ada bukti yang dihasilkan dari penelitian sistematik yang menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara pornografi dengan kondisi moral masyarakat Kanada… [demikian pula tidak ada] yang menunjukkan bahwa kenaikan angka statistik bentuk-bentuk perilaku menyimpang tertentu, dalam hal kecenderungan meningkatnya statistik angka kejahatan (misalnya angka peristiwa pemerkosaan), memiliki hubungan sebab-akibat dengan pornografi.” Di Kanada, Komite Frazier pada 1985, setelah memeriksa ulang bukti-bukti yang ada, mengatakan bahwa data yang telah dikumpulkan oleh komite sebelumnya disusun dengan demikian buruk sehingga tidak ada rangkaian bukti yang konsisten yang dapat digunakan untuk mengutuk pornografi (Kanada, 1985, hal.99).

Read the rest of this entry »

Apakah Kawaii?

September 25, 2007

Tulisan berikut adalah terjemahan dari tulisan Yomota Inuhiko yang berjudul ‘What is Kawaii?‘ Beliau sendiri telah memberikan ijin untuk melakukan terjemahan dan mendistribusikan tulisan ini secara bebas. Jadi, saya persilahkan kepada siapa pun yang ingin menggunakan tulisan beliau sebagai bahan bagi tulisannya sendiri. Mohon agar tidak lupa untuk mencantumkan sumbernya dengan jelas. Adapun mengenai tulisan aslinya dalam bahasa Inggris, mohon agar mengirimkan email kepada saya agar bisa saya kirimkan (dipo@jpf.or.id).

Tulisan ini beliau presentasikan pada sebuah ceramah yang diadakan di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, pada tangal 13 September 2007 yang lalu.

Read the rest of this entry »

Heteropia?

September 17, 2007

Oleh Dave Lumenta

Diterjemahkan oleh Dipo Siahaan

diambil dan diterjemahkan dari: http://asianbordertraveler.blogspot.com/ dengan seijin penulis.

Seorang teman Yunani pernah menberikan definisinya tentang heteropia sebagai “sebuah lokasi dimana berbagai objek (komoditas, manusia dan ide) yang (seharusnya) tidak bisa berada di satu tempat, tiba-tiba bertemu, saling berinteraksi dan bertabrakan satu dengan lainnya, dalam satu ruang dan rentang masa tertentu.

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.